Tentang Penyanyi
Justin Bieber adalah
penyanyi dan penulis lagu asal Kanada yang dikenal sebagai salah satu figur
besar dalam musik pop modern.
Sepanjang kariernya,
Justin Bieber banyak merilis lagu yang membahas hubungan, cinta, kerinduan,
pencarian jati diri, dan berbagai pengalaman personal. Musiknya juga berkembang
dari pop remaja menuju karya yang lebih dewasa dengan pengaruh R&B, soul,
dan musik elektronik.
“E.T.A.” memperlihatkan
sisi Justin Bieber yang lebih intim dan romantis. Lagu ini tidak terlalu
berfokus pada drama hubungan, melainkan pada perasaan sederhana ketika
seseorang sedang menunggu orang yang sangat dirindukannya.
Tentang Lagu
“E.T.A.” adalah singkatan
dari Estimated Time of Arrival, atau perkiraan waktu kedatangan.
Dalam lagu ini, E.T.A.
bukan sekadar pertanyaan tentang kapan seseorang tiba.
E.T.A. menjadi simbol dari
penantian, rasa rindu, kecemasan, dan keinginan untuk mendapatkan kepastian.
Narator sedang menunggu
seseorang yang sangat ingin ditemuinya.
Waktu terasa berjalan
sangat lambat.
Satu jam terasa seperti
beberapa jam.
Ia mencoba mengalihkan
pikirannya dengan berbagai cara, tetapi tetap saja pikirannya kembali kepada
orang yang sedang ditunggu.
Sampai akhirnya, yang
ingin ia dengar hanyalah:
“Kapan kamu sampai?”
Makna / Interpretasi Lagu
Menurut interpretasi gue, “E.T.A.”
adalah lagu tentang bagaimana rasa rindu bisa mengubah persepsi kita terhadap
waktu.
Ketika kita sedang
menunggu sesuatu yang tidak terlalu penting, waktu biasanya berjalan biasa
saja.
Tapi ketika kita menunggu
seseorang yang sangat kita rindukan, lima menit bisa terasa seperti setengah
jam.
Itulah yang terjadi kepada
narator.
Ia mencoba mengisi
pikirannya agar tidak terlalu memikirkan orang tersebut. Bahkan suara pun
digunakan untuk mengalihkan perhatian dari rasa membutuhkan.
Tetapi usaha tersebut
tidak berhasil.
Karena masalah sebenarnya
bukan kebosanan.
Masalahnya adalah rindu.
Semakin lama orang
tersebut belum datang, semakin besar rasa gelisahnya.
Tema yang Dibahas
Waktu yang Terasa Berjalan
Lambat
Salah satu tema paling
jelas dalam lagu ini adalah perubahan persepsi terhadap waktu.
Narator merasa waktu
seperti bergerak dalam slow motion.
Ia melihat jam dan merasa
waktu sebelumnya berjalan sangat lama.
Menurut gue, ini adalah
pengalaman yang sangat relatable.
Ketika kita menunggu
seseorang yang kita cintai, kita menjadi terlalu sadar terhadap waktu.
Kita melihat jam.
Mengecek ponsel.
Melihat ke luar jendela.
Kemudian mengecek jam
lagi.
Padahal baru beberapa
menit berlalu.
Bukan waktunya yang
benar-benar berubah.
Perasaan kita yang membuat
waktu terasa berbeda.
Rasa Rindu yang Sulit
Dialihkan
Narator mencoba mencari
kesibukan supaya pikirannya tidak terus tertuju pada orang yang sedang
ditunggu.
Tetapi semakin ia berusaha
mengalihkan perhatian, semakin jelas bahwa orang tersebut memang memenuhi
pikirannya.
Ini menunjukkan bahwa
rindu tidak selalu bisa diselesaikan dengan kesibukan.
Kita bisa bekerja.
Menonton sesuatu.
Mendengarkan musik.
Bermain game.
Berbicara dengan orang
lain.
Tetapi kalau hati sedang
menunggu seseorang, pikiran tetap bisa kembali ke orang yang sama.
Menunggu Kepastian
Menurut gue, pertanyaan
tentang E.T.A. sebenarnya bukan cuma pertanyaan tentang waktu.
Ada kebutuhan untuk
mendapatkan kepastian.
“Kamu sudah sampai mana?”
“Kapan kamu datang?”
“Berapa lama lagi?”
Pertanyaan-pertanyaan
sederhana tersebut bisa muncul karena kita ingin tahu kapan masa penantian
berakhir.
Dan ketika seseorang
mengatakan bahwa dirinya sudah dekat, rasa cemas perlahan berubah menjadi
antisipasi.
Jarak yang Justru
Memperkuat Perasaan
Ada bagian yang
menggambarkan bahwa jarak justru membuat mereka semakin menyayangi satu sama
lain.
Ini menarik karena
biasanya jarak dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu hubungan.
Tetapi dalam konteks lagu
ini, jarak justru memberikan ruang untuk merasakan betapa berharganya kehadiran
seseorang.
Ketika orang tersebut
tidak ada, kita semakin menyadari betapa kita menginginkan keberadaannya.
Kadang kita baru
benar-benar menghargai sebuah kehadiran ketika kehadiran itu tidak bisa kita
dapatkan setiap saat.
Antisipasi Sebelum
Pertemuan
Lagu ini tidak hanya
berbicara tentang rasa rindu.
Ada juga rasa bahagia yang
muncul sebelum pertemuan terjadi.
Narator sudah membayangkan
orang tersebut datang.
Ia bahkan membayangkan
bagaimana rasanya ketika akhirnya bisa berada dekat dengannya.
Menurut gue, ini
menunjukkan bahwa menunggu seseorang yang kita cintai bisa menjadi
pengalaman emosional tersendiri.
Pertemuannya belum
terjadi, tetapi pikiran kita sudah lebih dulu merasakan kebahagiaan.
Rumah sebagai Tempat
Pulang
Menjelang akhir lagu,
fokusnya berpindah dari perjalanan menuju tempat tujuan.
Yang diinginkan narator
sebenarnya sederhana:
berada dalam pelukan orang
tersebut dan berada di tempat yang terasa nyaman bersama.
Tempat tidur dan ruang
pribadi menjadi simbol kenyamanan.
Menurut gue, ini
memperlihatkan bahwa tujuan sebenarnya bukan sekadar orang tersebut sampai di
rumah.
Tujuannya adalah kembali
merasa dekat.
Jadi, E.T.A. bukan hanya
tentang perjalanan secara fisik.
Ada perjalanan emosional
dari:
“Kapan kamu sampai?”
menuju:
“Akhirnya kamu di sini.”
Pendapat / Analisis
Menurut gue, kekuatan
“E.T.A.” justru ada pada kesederhanaannya.
Lagu ini tidak membutuhkan
konflik besar.
Tidak ada perselingkuhan.
Tidak ada perpisahan
dramatis.
Tidak ada hubungan yang
hancur.
Cuma ada seseorang yang
sedang menunggu orang yang dia sayang.
Tapi dari hal sederhana
itu, muncul banyak emosi.
Cemas.
Kangen.
Tidak sabar.
Bahagia.
Dan akhirnya lega.
Menurut gue, bagian paling
relatable adalah ketika seseorang mulai memperhatikan waktu secara berlebihan.
Misalnya seseorang bilang:
“Gue lima menit lagi
sampai.”
Buat orang lain, lima
menit mungkin bukan apa-apa.
Tapi buat orang yang
sedang menunggu, lima menit bisa terasa lama banget.
Apalagi ketika kita sudah
melihat ke luar jendela berkali-kali, mengecek jalan, mengecek ponsel, lalu
bertanya:
“Kok belum sampai juga?”
Buat gue, E.T.A. di lagu
ini sebenarnya punya makna yang lebih emosional daripada sekadar perkiraan
waktu kedatangan.
Kita bertanya tentang
E.T.A. karena kita ingin tahu kapan rasa menunggu ini selesai.
Dan yang lebih menarik,
narator sebenarnya tidak membutuhkan sesuatu yang mewah.
Dia hanya ingin orang
tersebut datang.
Ingin berada dekat.
Ingin memeluk.
Ingin menghabiskan waktu
bersama.
Ini membuat lagu tersebut
terasa seperti gambaran tentang cinta yang sederhana.
Kadang ketika kita
benar-benar menyayangi seseorang, yang kita inginkan bukan hadiah besar atau
perjalanan ke tempat luar biasa.
Cukup:
“Cepat pulang.”
“Kapan sampai?”
“Gue tungguin.”
Dan ketika akhirnya orang
itu tiba, seluruh penantian tadi terasa sepadan.
Menurut gue, lagu ini juga
memperlihatkan bahwa rasa rindu bisa membuat seseorang menjadi sangat tidak
sabar, tetapi sekaligus sangat bahagia.
Karena ada perbedaan
antara menunggu sesuatu yang tidak pasti dengan menunggu seseorang yang kita
tahu akan datang.
Yang satu membuat kita
cemas.
Yang satu lagi membuat
kita tidak sabar.
Dan “E.T.A.” lebih terasa
seperti yang kedua.
Fakta Lagu yang Relevan
“E.T.A.” merupakan salah
satu lagu Justin Bieber dalam album Changes, yang dirilis pada 2020.
Judul “E.T.A.” merujuk
pada istilah Estimated Time of Arrival, yaitu perkiraan waktu seseorang
atau sesuatu mencapai tujuan.
Dalam konteks lagu,
istilah tersebut digunakan secara romantis untuk menggambarkan seseorang yang
sedang menunggu pasangannya tiba.
Lagu ini menjadi bagian
dari sisi romantis album “Changes”, yang banyak mengeksplorasi tema cinta,
hubungan, kedekatan, dan kehidupan personal Justin Bieber.
Lirik Lagu
Tentang Pensil Karyaku
Pensil Karyaku hadir untuk membahas
makna, pesan, dan cerita di balik berbagai lagu yang mungkin sering kita
dengarkan, tetapi belum tentu kita pahami lebih dalam.
Lewat setiap tulisan, kita
mencoba melihat sebuah lagu bukan hanya dari melodinya, tetapi juga dari
cerita, pengalaman, pesan sosial, kehidupan, dan perasaan yang mungkin
terkandung di dalamnya.
Karena terkadang, satu
lagu bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.
Yuk, Ikut Berdiskusi
Menurut kalian, pernah
nggak rasa kangen bikin waktu terasa lama banget berjalan?
Kalau seseorang yang
kalian sayang bilang “lima menit lagi sampai”, apakah lima menit itu
benar-benar terasa cuma lima menit? 😭
Dan menurut kalian, apakah
jarak memang bisa membuat dua orang semakin menghargai satu sama lain,
atau justru semakin menjauhkan?
Tulis pendapat kalian di
kolom komentar dan ikut berdiskusi di Pensil Karyaku.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar