Kamis, 14 Mei 2020

Makna Lagu Anna Clendening – To My Parents

Anna Clendening – To My Parents

Tentang Penyanyi

Anna Clendening adalah penyanyi dan penulis lagu asal Amerika Serikat yang dikenal lewat karya-karya yang banyak mengeksplorasi pengalaman personal, hubungan, kerentanan, kesehatan mental, dan berbagai pergulatan emosional.

Anna mulai dikenal lebih luas setelah tampil di America’s Got Talent. Setelah itu, ia terus mengembangkan karier musiknya dengan lagu-lagu yang terasa dekat dengan pengalaman pribadi dan sisi emosional kehidupan.

Salah satu karakter kuat dalam karya Anna adalah keberaniannya membicarakan hal-hal yang mungkin membuat seseorang merasa malu untuk mengakuinya: rasa tidak cukup baik, kegagalan, kecemasan, kehilangan arah, sampai hubungan dengan orang-orang terdekat.

“To My Parents” membawa pendekatan tersebut ke hubungan yang sangat personal, yaitu hubungan seorang anak dengan orang tuanya.

Lagu ini terasa seperti surat terbuka dari seorang anak yang merasa telah mengecewakan orang tuanya dan ingin mengatakan sesuatu yang selama ini sulit disampaikan secara langsung.


Tentang Lagu

“To My Parents” merupakan lagu yang berbentuk seperti pengakuan sekaligus permintaan maaf kepada orang tua.

Tokoh dalam lagu merasa bahwa dirinya telah menyia-nyiakan kesempatan.

Dia merasa seharusnya bisa melakukan lebih banyak hal.

Seharusnya hidupnya sudah lebih terarah.

Seharusnya sudah membuat orang tua bangga.

Namun kenyataannya, hidup berjalan jauh dari rencana yang pernah dibayangkan.

Ada pengalaman meninggalkan kuliah, kembali tinggal bersama orang tua, kesulitan secara finansial, sampai perjuangan emosional yang membuat dirinya semakin merasa gagal.

Yang membuat lagu ini terasa sangat menyakitkan adalah bahwa tokoh utama tidak hanya merasa gagal dalam hidup.

Dia merasa gagal sebagai anak.

Dia merasa seharusnya sudah mampu memberikan sesuatu kepada orang tua sebagai balasan atas semua yang telah mereka berikan.

Karena itu, lagu ini bukan sekadar permintaan maaf.

Ini adalah cerita tentang seseorang yang sedang berusaha berdamai dengan perasaan bahwa dirinya belum menjadi orang yang dia pikir seharusnya dia jadi.


Makna / Interpretasi Lagu

Menurut gue, inti dari “To My Parents” adalah tentang rasa bersalah seorang anak yang merasa hidupnya belum sesuai dengan harapan orang tua maupun harapannya sendiri.

Namun semakin dalam lagu ini dibaca, sebenarnya terlihat bahwa rasa bersalah tersebut tidak hanya berasal dari orang tua.

Sebagian besar tekanan justru datang dari dirinya sendiri.

Anak Kecil dengan Harapan Besar

Bagian awal lagu membawa kita kembali ke masa ketika tokoh utama masih bayi.

Saat itu, dia digambarkan sebagai seorang anak kecil yang memiliki masa depan yang belum ditentukan.

Orang tua melihatnya sebagai seseorang yang memiliki begitu banyak kemungkinan.

Belum ada kegagalan.

Belum ada keputusan buruk.

Belum ada nilai buruk.

Belum ada masalah kuliah atau pekerjaan.

Yang ada hanya harapan.

Menurut gue, bagian ini penting karena menunjukkan bahwa ketika seorang anak lahir, orang tua biasanya tidak langsung memikirkan apakah anak tersebut akan sukses atau gagal.

Mereka hanya melihat seorang anak yang ingin mereka lindungi.

Namun seiring bertambahnya usia, harapan tersebut bisa berubah menjadi standar.

Hubungan yang Berubah Saat Remaja

Ada bagian yang menggambarkan bagaimana hubungan dengan orang tua mulai berubah ketika tokoh utama beranjak remaja.

Pertengkaran.

Pergi dari rumah.

Mengucapkan kata-kata kasar.

Bahkan mengatakan bahwa dirinya membenci orang tua.

Tetapi kemudian muncul pengakuan bahwa sebenarnya perasaan tersebut tidak sesederhana itu.

Ini menggambarkan salah satu fase paling rumit dalam hubungan anak dan orang tua.

Ketika masih remaja, kita sering merasa orang tua tidak memahami kita.

Kita ingin bebas.

Kita ingin menentukan hidup sendiri.

Dan terkadang kemarahan membuat kita mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya kita maksudkan.

Ketika dewasa, kita mungkin melihat kembali masa tersebut dengan perasaan bersalah.

“I Should've Done Better”

Kalimat ini menjadi salah satu inti emosional lagu.

Tokoh utama terus merasa bahwa dirinya seharusnya bisa melakukan lebih baik.

Seharusnya lebih berhasil.

Seharusnya lebih bertanggung jawab.

Seharusnya hidupnya sudah lebih tertata.

Masalahnya, kata “seharusnya” bisa menjadi sangat berat.

Karena ketika hidup tidak berjalan sesuai ekspektasi, kita mulai melihat diri sendiri sebagai kegagalan.

Padahal hidup seseorang tidak selalu berjalan sesuai timeline yang sudah dibuat.

Merasa Memalukan Orang Tua

Ada bagian ketika tokoh utama merasa orang tuanya mungkin malu membicarakan dirinya kepada teman-teman mereka.

Menurut gue, ini bukan hanya tentang apakah orang tua benar-benar merasa malu.

Ini lebih menunjukkan bagaimana tokoh utama melihat dirinya sendiri.

Dia merasa dirinya adalah sesuatu yang memalukan.

Dia merasa orang tuanya mungkin melihat kegagalannya.

Padahal belum tentu demikian.

Kadang rasa malu terbesar justru berasal dari cara kita menilai diri sendiri.

Pulang ke Rumah Bukan Berarti Gagal

Tokoh utama menggambarkan dirinya kembali tinggal di rumah orang tua karena tidak mampu membayar kebutuhan hidupnya sendiri.

Secara sederhana, ini bisa terlihat seperti kemunduran.

Tetapi menurut gue, pulang ke rumah sebenarnya tidak selalu berarti seseorang gagal.

Ada masa ketika seseorang memang membutuhkan tempat untuk berhenti.

Kehidupan tidak selalu berjalan lurus dari sekolah, kuliah, pekerjaan, lalu sukses.

Ada orang yang harus kembali ke titik awal sebelum bisa menemukan arah baru.

Dan menurut gue, lagu ini menarik karena memperlihatkan betapa kerasnya seseorang terhadap dirinya sendiri ketika hidupnya tidak berjalan sesuai rencana.

Keinginan Membalas Jasa Orang Tua

Salah satu bagian paling emosional adalah keinginan untuk membelikan rumah dan membantu membayar kebutuhan medis orang tua.

Ini menunjukkan bagaimana keberhasilan bagi tokoh utama tidak hanya untuk dirinya sendiri.

Dia ingin sukses supaya bisa memberikan sesuatu kepada orang yang telah membesarkannya.

Namun ketika belum mampu melakukan itu, rasa bersalahnya semakin besar.

Dia merasa:

“Setelah semua yang mereka lakukan untuk gue, kenapa gue belum bisa melakukan sesuatu untuk mereka?”


Tema yang Dibahas

Rasa Bersalah kepada Orang Tua

Tema terbesar dalam lagu ini adalah rasa bersalah.

Tokoh utama merasa telah mengecewakan orang tua karena hidupnya belum sesuai dengan apa yang diharapkan.

Namun rasa bersalah tersebut sebenarnya bercampur dengan rasa sayang dan keinginan untuk membalas semua pengorbanan mereka.

Ekspektasi tentang Kesuksesan

Lagu ini juga membahas standar tentang seperti apa seseorang dianggap berhasil.

Kuliah.

Punya pekerjaan.

Punya rumah.

Mampu membayar kebutuhan sendiri.

Mampu membantu orang tua.

Menjadi seseorang yang membanggakan.

Masalahnya, tidak semua orang mencapai hal tersebut pada usia atau waktu yang sama.

Kegagalan dan Kehilangan Arah

Tokoh utama pernah membuat keputusan yang tidak sesuai dengan harapan.

Ada masa ketika hidup terasa tidak memiliki arah.

Tetapi kehilangan arah tidak selalu berarti kehilangan masa depan.

Kadang seseorang memang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan jalan yang cocok untuk dirinya.

Hubungan Anak dan Orang Tua

Lagu ini memperlihatkan hubungan yang kompleks antara anak dan orang tua.

Ada kasih sayang.

Ada pertengkaran.

Ada rasa kecewa.

Ada rasa bersalah.

Ada keinginan untuk membahagiakan.

Semuanya bisa hadir secara bersamaan.

Self-Worth

Salah satu tema yang cukup kuat adalah bagaimana pencapaian bisa memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Ketika belum sukses, tokoh utama merasa dirinya belum menjadi “seseorang”.

Padahal nilai seseorang tidak seharusnya hanya ditentukan oleh pencapaian ekonomi atau status.

Kesehatan Mental dan Perjuangan Pribadi

Lagu ini juga menyentuh sisi perjuangan emosional yang membuat proses menjadi “dewasa” semakin sulit.

Ada gambaran tentang bagaimana seseorang bisa begitu keras terhadap dirinya sendiri ketika merasa tidak memenuhi ekspektasi.

Karena itu, lagu ini tidak hanya tentang kegagalan secara finansial atau pendidikan, tetapi juga tentang perjuangan untuk menerima diri sendiri.


Pendapat / Analisis

Menurut gue, “To My Parents” adalah salah satu lagu yang paling relate buat orang-orang yang merasa hidupnya “tertinggal.”

Bukan cuma anak yang gagal kuliah.

Bukan cuma orang yang belum punya pekerjaan bagus.

Tapi siapa pun yang pernah melihat teman-temannya sudah punya rumah, karier, pasangan, atau kehidupan yang terlihat mapan, sementara dirinya masih bertanya:

“Gue sebenarnya mau ke mana?”

Yang paling bikin gue tersentuh adalah bagaimana tokoh utama merasa harus meminta maaf karena belum menjadi seseorang.

Seolah-olah umur tertentu punya deadline.

Seolah-olah kalau sampai umur sekian belum sukses, berarti kita telah mengecewakan orang tua.

Padahal menurut gue, hidup bukan lomba yang semua orang harus sampai di garis finish pada waktu yang sama.

Ada orang yang menemukan jalannya di usia dua puluhan.

Ada yang baru menemukan arah di usia tiga puluhan.

Ada juga yang harus berkali-kali mengubah jalan hidup sebelum akhirnya menemukan sesuatu yang cocok.

Dan itu tidak otomatis membuat hidup mereka gagal.

Bagian tentang ingin membelikan rumah untuk orang tua juga menurut gue sangat manusiawi.

Banyak anak punya keinginan seperti itu.

Kita ingin suatu hari bisa bilang:

“Sekarang giliran gue yang jagain kalian.”

Masalahnya, keinginan tersebut kadang berubah menjadi tekanan.

Kita merasa kalau belum mampu memberi secara materi, berarti kita belum cukup membalas jasa orang tua.

Padahal kasih sayang orang tua seharusnya tidak selalu dihitung seperti transaksi.

Mereka membesarkan kita bukan supaya suatu hari kita harus membayar semuanya kembali.

Menurut gue, yang paling menyakitkan dari lagu ini justru bukan kegagalannya.

Tetapi cara tokoh utama melihat dirinya sendiri karena kegagalan tersebut.

Dia tidak hanya berkata, “hidup gue sedang berantakan.”

Dia sampai merasa, “gue seharusnya sudah menjadi seseorang.”

Dan menurut gue, dua kalimat tersebut punya perbedaan besar.

Yang pertama menggambarkan kondisi.

Yang kedua menyerang identitas diri.

Kita boleh mengakui bahwa hidup sedang berantakan.

Boleh mengakui bahwa kita pernah membuat keputusan buruk.

Boleh mengakui bahwa kita belum mencapai apa yang kita inginkan.

Tapi itu tidak berarti kita adalah orang yang gagal.

Karena hidup belum selesai hanya karena satu bab berjalan buruk.

Dan mungkin, kalau ada satu hal yang bisa gue ambil dari lagu ini, adalah:

kita tidak harus menjadi sukses dulu untuk pantas disebut sebagai anak yang berharga.


Fakta Lagu yang Relevan

“To My Parents” merupakan lagu Anna Clendening yang sangat personal karena menggunakan sudut pandang seorang anak yang berbicara langsung kepada kedua orang tuanya.

Struktur lagunya terasa seperti surat terbuka. Pengulangan permintaan maaf membuat lagu seperti sebuah pengakuan yang terus kembali pada satu perasaan utama: rasa bersalah karena merasa belum menjadi orang yang diharapkan.

Lagu ini juga menggunakan detail kehidupan yang konkret, seperti pendidikan, kondisi finansial, tinggal kembali bersama orang tua, dan keinginan untuk membantu kebutuhan orang tua. Detail tersebut membuat tema besarnya—tentang kegagalan, ekspektasi, dan rasa bersalah—terasa lebih nyata.

Menariknya, lagu ini tidak hanya membicarakan kegagalan dari sudut pandang seorang anak. Lagu ini juga memperlihatkan bagaimana seseorang dapat menciptakan standar keberhasilan yang sangat tinggi untuk dirinya sendiri karena ingin membahagiakan orang tua.

Karena itu, “To My Parents” bisa dibaca bukan hanya sebagai lagu permintaan maaf kepada orang tua, tetapi juga sebagai proses seseorang belajar berdamai dengan dirinya sendiri.


Lirik Lagu

I’m sorry mum and dad, I know I messed up bad

I should’ve, should’ve done, should’ve done better

I’m sorry mum and dad, for all the time I had

To get my life, to get my life together,

But I didn’t

 

1993, you gave birth to me

Sweet little baby girl

Had the world in my feet

Before I could even stand

 

Cradle me in your right and left hand

Precious bundle of unmade plans

Hopes and dreams of bigger things

A bright future so it seemed

But that light grew a little less bright

As I grew and we began to fight

 

When I was 13, I was so d-mn mean

Running away, had nothing more to say

Than I hate you

But that’s not true now

I just don’t, I just don’t know how to say

 

I’m sorry mum and dad, I know i messed up bad

I should’ve, should’ve done, should’ve done better

I’m sorry mum and dad, for all the time I had

To get my life, to get my life together,

But I didn’t

 

You never talk about to your friends

Because you must be so embarr-ssed

I dropped out of college without any plans

Moved back home I couldn’t even pay rent

I was living on your couch trying to figure it out

Putting myself up and tearing myself down

 

I’m sorry mum and dad, I know I messed up bad

I should’ve, should’ve done, should’ve done better

I’m sorry mum and dad, for all the time I had

To get my life, to get my life together,

But I didn’t

 

I’m sorry that I couldn’t buy you, that house upon the hill

Or take care of all your medical bills

I know I didn’t make you proud

I should’ve been someone by now

But i never figured out how

 

I’m sorry that I couldn’t buy you, that house upon the hill

Or take care of all your medical bills

I know I didn’t make you proud

I should’ve been someone by now

But I never figured out how

 

I’m sorry mum and dad, I know I messed up bad

I should’ve, should’ve done, should’ve done better

I’m sorry mum and dad, for all the time I had

To get my life, to get my life together,

 

I’m sorry mum and dad, I know I messed up bad

I should’ve, should’ve done, should’ve done better

I’m sorry mum and dad, for all the time I had

To get my life, to get my life together,

But I didn’t

Sincerely your daugther


Tentang Pensil Karyaku

Pensil Karyaku hadir untuk membahas makna, pesan, dan cerita di balik berbagai lagu yang mungkin sering kita dengarkan, tetapi belum tentu kita pahami lebih dalam.

Lewat setiap tulisan, kita mencoba melihat sebuah lagu bukan hanya dari melodinya, tetapi juga dari cerita, pengalaman, pesan sosial, kehidupan, dan perasaan yang mungkin terkandung di dalamnya.

Karena terkadang, satu lagu bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.


Yuk, Ikut Berdiskusi

Menurut kalian, apakah seorang anak benar-benar harus sukses dulu untuk bisa membuat orang tuanya bangga?

Pernah nggak kalian merasa hidup sudah terlalu jauh tertinggal dari orang lain, sampai akhirnya merasa mengecewakan keluarga?

Dan menurut kalian, apakah membantu orang tua secara materi adalah satu-satunya cara untuk membalas semua yang sudah mereka berikan?

Tulis pendapat kalian di kolom komentar.

Karena mungkin, ada banyak orang yang sedang berada di fase hidup yang sama: belum sampai ke tujuan, tetapi terlalu keras menyalahkan diri sendiri karena merasa seharusnya sudah sampai.

 

 

Tidak ada komentar: