Tentang Penyanyi
Julia Michaels adalah
penyanyi dan penulis lagu asal Amerika Serikat yang dikenal lewat lagu-lagu
dengan tema hubungan, kerentanan emosional, kecemasan, konflik batin, dan
pengalaman pribadi.
Julia Michaels memiliki
gaya penulisan yang cukup jujur dan sering kali tidak menggambarkan hubungan
secara hitam-putih. Tokoh dalam lagunya bisa mencintai seseorang sekaligus
merasa kesal, takut, bingung, atau bahkan sadar bahwa dirinya sendiri ikut menjadi
bagian dari masalah.
Pendekatan seperti inilah
yang terasa kuat dalam “Worst In Me.”
Tentang Lagu
“Worst In Me” menggambarkan sebuah
hubungan yang sebenarnya masih memiliki kemungkinan untuk berhasil, tetapi
kedua orang di dalamnya sudah terlalu terbiasa dengan konflik dan rasa kesal.
Yang menarik, masalahnya
bukan karena mereka sama sekali tidak cocok.
Justru sebaliknya.
Mereka tahu bahwa hubungan
tersebut mungkin bisa berhasil.
Mereka tahu masih ada
cinta.
Mereka tahu masalah yang
ada sebenarnya bisa diperbaiki.
Tetapi ada bagian dari
diri mereka yang seperti tidak ingin memperbaikinya.
Judul “Worst In Me”
sendiri menjadi inti dari lagu ini.
Ada sisi terbaik dalam
diri seseorang yang masih ingin mencintai dan mempertahankan hubungan, tetapi
ada juga sisi terburuk yang membawa rasa kesal, ego, luka lama, dan keengganan
untuk kembali berusaha.
Makna / Interpretasi Lagu
Menurut gue, lagu ini
menggambarkan hubungan yang sudah masuk ke fase di mana cinta masih ada,
tetapi kebiasaan buruk dalam hubungan juga sudah mengakar.
Di awal lagu, tokohnya
mengingat masa ketika mereka masih bisa benar-benar bahagia atas kebahagiaan
satu sama lain.
Dulu, pasangan bisa pergi
bersama teman lawan jenis tanpa langsung menimbulkan masalah.
Dulu, keberhasilan
pasangan bisa dirayakan tanpa merasa tersaingi atau melewati batas.
Tetapi sekarang semuanya
berubah.
Ada rasa tidak percaya.
Ada resentment.
Ada hal-hal kecil yang
mulai mengganggu.
Dan semakin lama, kedua
orang tersebut seperti kehilangan kemampuan untuk melihat satu sama lain dengan
cara yang sama seperti dulu.
Menurut gue, perubahan ini
menunjukkan bahwa hubungan tidak selalu rusak karena satu kejadian besar.
Kadang hubungan rusak
karena hal-hal kecil yang terus menumpuk dan tidak pernah benar-benar
diselesaikan.
Masalah kecil yang
dibiarkan akhirnya berubah menjadi rasa kesal.
Rasa kesal berubah menjadi
resentment.
Dan resentment membuat hal
kecil sekalipun terasa menjengkelkan.
Sampai akhirnya,
keberadaan pasangan sendiri bisa terasa seperti pemicu emosi.
Hal yang paling menarik
buat gue adalah bagian ketika mereka seperti takut hubungan mereka menjadi
baik.
Ini terdengar aneh.
Bukankah seharusnya orang
yang sedang berkonflik ingin hubungannya membaik?
Tapi menurut gue, ada
situasi ketika seseorang sudah terlalu lama hidup dalam konflik sampai keadaan
buruk terasa lebih familiar daripada keadaan baik.
Mereka sudah tahu
bagaimana cara bertengkar.
Sudah tahu bagaimana cara
saling menyalahkan.
Sudah tahu bagaimana cara
menjauh.
Tetapi mereka mungkin
tidak lagi tahu bagaimana cara kembali dekat tanpa membawa semua luka lama.
Jadi ketika hubungan mulai
membaik, justru muncul ketakutan.
Karena kalau mereka
benar-benar mencoba lagi dan gagal, rasa sakitnya mungkin akan terasa lebih
besar.
Bagian “worst in me”
juga menurut gue sangat penting.
Tokoh dalam lagu ini tidak
sepenuhnya menyalahkan pasangannya.
Dia justru mengakui bahwa
mungkin sisi terburuk dalam dirinya sendiri ikut mengeluarkan sisi terburuk
dari pasangannya.
Ini membuat konfliknya
terasa lebih dewasa.
Karena dalam hubungan,
kita sering melihat masalah sebagai:
“Dia yang bikin gue
berubah.”
Padahal bisa saja yang
terjadi adalah sebuah siklus.
Seseorang bersikap
defensif → pasangannya ikut defensif → orang pertama merasa tidak dimengerti →
semakin kasar atau dingin → pasangannya membalas → konflik semakin besar.
Akhirnya kedua orang
tersebut sama-sama bertanya:
“Kenapa dia sekarang jadi
seperti ini?”
Padahal mungkin mereka
berdua sedang saling memantulkan luka masing-masing.
Tema yang Dibahas
Cinta yang Masih Ada,
Tetapi Hubungan Sudah Terluka
Menurut gue, lagu ini
bukan lagu tentang berhenti mencintai.
Justru cinta masih sangat
jelas terasa.
Masalahnya adalah cinta
tersebut tidak otomatis menyelesaikan semua masalah.
Dua orang bisa saling
mencintai tetapi tetap memiliki pola komunikasi yang buruk.
Bisa saling mencintai
tetapi masih menyimpan dendam.
Bisa saling mencintai
tetapi terlalu lelah untuk kembali berusaha.
Dan ini salah satu hal
paling realistis dalam lagu tersebut.
Resentment yang Menumpuk
Resentment atau rasa kesal
yang dipendam menjadi salah satu tema terbesar.
Ketika seseorang sudah
terlalu lama menyimpan rasa sakit, hal kecil dari pasangan bisa terasa jauh
lebih besar daripada seharusnya.
Bukan karena hal kecil itu
benar-benar sangat menyakitkan.
Tetapi karena hal tersebut
datang di atas tumpukan masalah lama.
Makanya ada kesan bahwa
apa pun yang dilakukan pasangan sudah tidak memiliki efek yang sama seperti
dulu.
Hubungan tersebut sudah
terlalu lama hidup dalam ketegangan.
Saling Mengeluarkan Sisi
Terburuk
Judul lagu ini bisa dibaca
sebagai pengakuan bahwa dua orang tersebut tidak hanya memiliki masalah dengan
pasangannya.
Mereka juga punya masalah
dengan versi diri mereka ketika berada di dalam hubungan tersebut.
Ada orang yang sebenarnya
penyayang, tetapi menjadi posesif ketika merasa tidak aman.
Ada orang yang sebenarnya
sabar, tetapi menjadi dingin setelah terlalu sering kecewa.
Ada orang yang sebenarnya
ingin memperbaiki hubungan, tetapi memilih menyerang lebih dulu karena takut
disakiti.
Dalam kondisi tertentu,
hubungan bisa membuat sisi buruk seseorang muncul ke permukaan.
Takut Memulai Perbaikan
Ada sesuatu yang menarik
dari pengakuan bahwa mereka sebenarnya tahu masalah tersebut bisa diperbaiki.
Artinya, mereka bukan
tidak tahu apa yang salah.
Mereka mungkin tahu.
Tetapi mengetahui masalah
dan mau mengerjakannya adalah dua hal yang berbeda.
Kadang kita tahu harus
meminta maaf.
Tahu harus berbicara.
Tahu harus berhenti
mengungkit masa lalu.
Tahu harus belajar percaya
lagi.
Tetapi ego membuat kita
berkata:
“Kenapa harus gue yang
mulai?”
Dan hubungan akhirnya
tetap berada di tempat yang sama.
Janji yang Bersyarat
Menjelang akhir lagu ada
kesan bahwa tokoh tersebut masih ingin memperbaiki hubungan, tetapi dengan
syarat:
“Kalau lo nggak menyakiti
gue, gue juga nggak akan menyakiti lo.”
Menurut gue, ini
menunjukkan bahwa kepercayaan mereka sudah sangat rapuh.
Mereka masih ingin
bersama, tetapi belum sepenuhnya merasa aman.
Jadi hubungan tidak lagi
hanya membutuhkan cinta.
Mereka membutuhkan bukti
bahwa masing-masing orang benar-benar bersedia berhenti mengulangi kesalahan
yang sama.
Pertarungan antara Sisi
Terbaik dan Terburuk
Ini mungkin tema yang
paling sesuai dengan judulnya.
Ada best in me yang
ingin mencintai.
Tetapi ada juga worst
in me yang tidak ingin berusaha.
Dan menurut gue,
pertarungan ini sebenarnya terjadi dalam banyak hubungan.
Kita bisa ingin memeluk
seseorang sekaligus ingin menjauh darinya.
Bisa ingin mempertahankan
hubungan sekaligus merasa lelah.
Bisa masih mencintai
seseorang tetapi tidak lagi suka dengan cara hubungan itu berjalan.
Perasaan manusia memang
bisa kontradiktif seperti itu.
Pendapat / Analisis
Menurut gue, “Worst In
Me” bukan sekadar lagu tentang hubungan yang bermasalah. Lagu ini lebih dalam
karena membahas bagaimana dua orang bisa saling mencintai tetapi sekaligus
saling memperburuk keadaan.
Dan bagian yang paling gue
suka adalah kesadaran bahwa mungkin bukan cuma pasangan yang menjadi masalah.
“Worst in me” bisa berarti
sisi buruk dalam diri kita sendiri yang muncul ketika berhadapan dengan orang
tertentu.
Kadang kita terlalu cepat
mengatakan:
“Gue jadi begini karena
dia.”
Padahal mungkin kita juga
punya tanggung jawab atas bagaimana hubungan tersebut berkembang.
Bisa jadi pasangan memang
melakukan kesalahan.
Tapi pertanyaannya
kemudian:
Setelah kita terluka,
apakah kita memilih memperbaikinya atau justru menggunakan luka tersebut
sebagai alasan untuk terus menyakiti balik?
Menurut gue, di situlah
konflik sebenarnya berada.
Yang lebih menyedihkan
lagi, mereka tahu bahwa hubungan tersebut sebenarnya masih mungkin berhasil.
Jadi masalahnya bukan
tidak ada kesempatan.
Kesempatannya ada.
Cintanya mungkin masih
ada.
Potensi untuk memperbaiki
juga ada.
Tetapi mereka sudah
terlalu terbiasa dengan rasa sakit.
Dan menurut gue, ini
sesuatu yang sering terjadi dalam hubungan.
Kita bisa sampai pada
titik ketika berkonflik terasa lebih mudah daripada memperbaiki.
Karena memperbaiki
membutuhkan kerendahan hati.
Harus mengakui kesalahan.
Harus berhenti menggunakan
masa lalu sebagai senjata.
Harus belajar percaya
lagi.
Dan yang paling sulit,
harus berani menjadi orang yang memulai perubahan meskipun belum mendapat
jaminan bahwa pasangan akan melakukan hal yang sama.
Tapi gue juga nggak
menganggap lagu ini sebagai pesan bahwa setiap hubungan harus dipertahankan.
Karena ada perbedaan
antara hubungan yang sedang terluka dan hubungan yang memang sudah tidak
sehat untuk diteruskan.
Kalau dua orang masih mau
belajar, berkomunikasi, bertanggung jawab, dan memperbaiki pola yang salah,
hubungan mungkin masih bisa diselamatkan.
Tapi kalau hanya satu
orang yang terus berusaha sementara yang lain terus mengulangi luka yang sama,
cinta saja mungkin nggak cukup.
Menurut gue, mencintai
seseorang juga berarti berani bertanya:
“Apakah hubungan ini
membuat kita menjadi versi yang lebih baik, atau justru terus mengeluarkan sisi
terburuk dari kita?”
Fakta Lagu yang Relevan
“Worst In Me” merupakan lagu yang
dibawakan oleh Julia Michaels dan termasuk dalam album debutnya, Nervous
System, yang dirilis pada 2017.
Lagu ini sejalan dengan
karakter penulisan Julia Michaels yang banyak mengeksplorasi hubungan secara
personal dan emosional, termasuk kontradiksi antara apa yang kita rasakan dan
bagaimana kita bertindak.
Judulnya sendiri menjadi
sangat relevan dengan isi lagu karena konflik utamanya bukan hanya tentang
“kamu” dan “aku”, tetapi tentang bagaimana hubungan tersebut membuat kedua
pihak mengeluarkan sisi terbaik sekaligus sisi terburuk mereka.
Lirik Lagu
Tentang Pensil Karyaku
Pensil Karyaku hadir untuk membahas
makna, pesan, dan cerita di balik berbagai lagu yang mungkin sering kita
dengarkan, tetapi belum tentu kita pahami lebih dalam.
Lewat setiap tulisan, kita
mencoba melihat sebuah lagu bukan hanya dari melodinya, tetapi juga dari
cerita, pengalaman, pesan sosial, kehidupan, dan perasaan yang mungkin
terkandung di dalamnya.
Karena terkadang, satu
lagu bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.
Yuk, Ikut Berdiskusi
Menurut kalian, apakah dua
orang yang masih saling mencintai tetapi terus mengeluarkan sisi terburuk
masing-masing masih layak memperjuangkan hubungan tersebut?
Atau justru cinta saja
nggak cukup kalau hubungan tersebut sudah terlalu banyak menyimpan resentment
dan luka?
Dan kalau kalian berada di
posisi tokoh dalam lagu ini, kalian akan memilih memperbaiki hubungan
atau melepaskannya sebelum semakin saling menyakiti?
Tulis pendapat kalian di kolom komentar. Siapa tahu sudut pandang kalian bisa membuat orang lain melihat hubungan mereka dari perspektif yang berbeda.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar