Lolo Zouaï – Moi
Tentang Penyanyi
Lolo Zouaï
adalah penyanyi dan penulis lagu yang dikenal lewat perpaduan R&B, pop,
hip-hop, dan pengaruh musik Prancis-Amerika.
Salah satu
ciri khas Lolo Zouaï adalah penggunaan dua bahasa dalam karyanya. Bahasa
Inggris dan Prancis sering muncul berdampingan, bukan hanya sebagai gaya
musikal, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan cara dia bercerita.
Karakter
tersebut terasa cukup kuat dalam “Moi”, karena perpindahan bahasa Inggris dan
Prancis ikut memperkuat tema tentang identitas, rumah, perjalanan, dan perasaan
berada di antara dua dunia.
Tentang
Lagu
“Moi” adalah
lagu yang terasa seperti perjalanan seseorang yang tidak merasa benar-benar
berada di rumahnya sendiri.
Frasa
Prancis yang terus diulang dalam lagu ini adalah:
“Je ne
suis pas chez moi”
yang secara
sederhana dapat dipahami sebagai “Aku tidak berada di rumahku” atau “Aku
bukan berada di tempat yang terasa seperti rumah.”
Menariknya,
konsep “rumah” dalam lagu ini tidak hanya berkaitan dengan bangunan atau
alamat.
Rumah bisa
berarti tempat seseorang merasa diterima.
Rumah bisa
berarti hubungan.
Rumah bisa
berarti kota tempat kita tinggal.
Bahkan rumah
bisa berarti perasaan nyaman terhadap diri sendiri.
Dan dalam
lagu ini, narator justru merasa bahwa dirinya tidak benar-benar menemukan
tempat tersebut.
Dia pernah
meninggalkan San Francisco, kemudian hidup dalam keadaan seperti berada di
antara satu tempat dan tempat lainnya.
Sampai
akhirnya muncul pemikiran bahwa rumah hanyalah tempat dia meletakkan bantal
untuk tidur.
Kalimat
tersebut terasa sederhana, tetapi sebenarnya cukup menyedihkan.
Karena kalau
rumah hanya menjadi tempat untuk tidur, berarti belum tentu ada tempat yang
benar-benar membuat seseorang merasa pulang.
Makna /
Interpretasi Lagu
Menurut
interpretasi gue, “Moi” adalah lagu tentang seseorang yang memilih
perjalanan daripada menetap di tempat yang tidak terasa seperti rumah.
Narator
berada dalam kondisi seperti limbo.
Dia sudah
meninggalkan tempat sebelumnya, tetapi belum benar-benar menemukan tempat baru
yang bisa disebut rumah.
Ada rasa
bebas di dalam lagu ini, tetapi sekaligus ada kesepian.
Dia bisa
pergi ke mana saja.
Dia bisa
membawa paspornya.
Dia bisa
berkendara sendirian.
Dia bisa
meninggalkan seseorang.
Tetapi
kebebasan tersebut juga memiliki harga:
tidak
memiliki tempat yang benar-benar terasa sebagai rumah.
Hal menarik
lainnya adalah narator tampaknya tidak ingin menjadikan hubungan romantis
sebagai alasan untuk menetap.
Ada
seseorang yang jatuh cinta kepadanya.
Tetapi dia
tetap memilih pergi.
Bukan karena
orang tersebut tidak cukup baik, melainkan karena dirinya sendiri belum
ingin atau belum mampu menjadikan hubungan tersebut sebagai tempat untuk
menetap.
Ketika dia
mengatakan bahwa hatinya berada di jalan, menurut gue itu menjadi inti dari
lagu ini.
Ada orang
yang memang merasa paling hidup ketika bergerak.
Bukan ketika
menetap.
Tema yang
Dibahas
Rumah
yang Tidak Lagi Terasa Seperti Rumah
Tema paling
jelas dalam lagu ini adalah kehilangan rasa “pulang”.
Rumah
biasanya diasosiasikan dengan keamanan, kenyamanan, dan tempat kembali.
Tetapi di
sini, narator justru mengatakan bahwa dirinya tidak berada di rumah.
Ini bisa
dibaca secara literal sebagai seseorang yang sering berpindah tempat.
Tetapi
secara emosional, maknanya bisa lebih dalam.
Seseorang
bisa tinggal bertahun-tahun di sebuah kota dan tetap merasa asing.
Seseorang
juga bisa tinggal bersama pasangan tetapi tetap merasa tidak benar-benar
diterima.
Jadi, rumah
tidak selalu ditentukan oleh alamat.
Hidup
dalam Limbo
Narator
menggambarkan dirinya berada dalam kondisi seperti limbo.
Dia sudah
pergi dari tempat lama, tetapi belum menemukan tempat baru.
Kondisi
seperti ini menurut gue cukup relate dengan kehidupan banyak orang.
Misalnya
ketika seseorang pindah kota untuk bekerja.
Atau ketika
seseorang meninggalkan hubungan lama tetapi belum tahu sebenarnya ingin menuju
ke mana.
Kita sudah
tahu bahwa kita tidak ingin kembali.
Tetapi kita
juga belum tahu harus pergi ke mana.
Dan justru
fase seperti itu bisa menjadi fase paling membingungkan.
Kebebasan
vs Kebutuhan untuk Menetap
Lagu ini
juga memperlihatkan konflik antara dua hal:
kebebasan
dan rasa memiliki.
Narator
jelas menyukai kebebasan.
Dia
bepergian sendiri.
Dia siap
meninggalkan seseorang.
Dia membawa
paspor.
Dia bahkan
menegaskan bahwa hatinya berada di jalan.
Tetapi
kebebasan berarti dia tidak memiliki tempat tetap untuk berlabuh.
Jadi ada
pertanyaan menarik di balik lagu ini:
Apakah
bebas selalu berarti bahagia?
Menurut gue,
belum tentu.
Kebebasan
bisa terasa menyenangkan ketika kita memang ingin pergi.
Tetapi
kebebasan juga bisa terasa sepi ketika sebenarnya kita ingin menemukan tempat
untuk pulang.
Tidak
Semua Cinta Bisa Membuat Seseorang Bertahan
Ada
seseorang yang mencintai narator.
Tetapi cinta
itu tidak cukup untuk membuatnya tinggal.
Ini menarik
karena dalam banyak cerita romantis, cinta sering digambarkan sebagai alasan
seseorang bertahan.
Namun “Moi”
justru menawarkan perspektif berbeda.
Kadang
seseorang bisa mencintai kita dengan tulus, tetapi kita tetap tidak bisa
tinggal bersamanya.
Bukan
berarti cintanya tidak berharga.
Hanya saja, cinta
dan kesiapan untuk menetap adalah dua hal yang berbeda.
Identitas
di Antara Dua Dunia
Penggunaan
bahasa Inggris dan Prancis juga terasa relevan dengan tema identitas.
Narator
bergerak di antara dua bahasa, sama seperti dia bergerak di antara tempat dan
pengalaman hidup.
Bahasa dalam
lagu bukan sekadar ornamen.
Pergantian
bahasa membuat karakter narator terasa seperti seseorang yang memiliki lebih
dari satu sisi kehidupan.
Ada sisi
yang berasal dari satu tempat.
Ada sisi
yang terbentuk dari tempat lain.
Dan mungkin
karena itulah dia tidak mudah merasa sepenuhnya menjadi bagian dari satu tempat
tertentu.
Pergi
Sebelum Terlambat
Ada energi
yang sangat kuat dalam keputusan narator untuk pergi.
Dia tidak
ingin ditahan.
Dia tidak
ingin seseorang membuatnya berubah pikiran.
Bahkan
ketika ada hubungan yang berpotensi menjadi tempat untuk menetap, dia tetap
memilih jalan.
Menurut gue,
ini bisa dibaca sebagai bentuk kejujuran.
Daripada
bertahan hanya karena kasihan atau takut menyakiti seseorang, lebih baik
mengatakan bahwa kita memang ingin pergi.
Karena
memaksakan diri tinggal juga pada akhirnya bisa menyakiti kedua pihak.
“My Heart
Is on the Road”
Buat gue,
ini salah satu gambaran paling kuat dalam lagu.
Hati yang
berada di jalan
menggambarkan seseorang yang merasa identitas dan kebahagiaannya justru
ditemukan dalam perjalanan.
Jalan
menjadi simbol kebebasan.
Tetapi
sekaligus menjadi simbol ketidakpastian.
Dia tidak
tahu pasti di mana akan berhenti.
Dan mungkin
dia memang tidak ingin tahu.
Karena yang
dia cari bukan tujuan akhir.
Yang dia
cari adalah perasaan bebas untuk terus bergerak.
Pendapat
/ Analisis
Menurut gue,
“Moi” punya kesan yang unik karena sekilas terdengar seperti lagu tentang
seseorang yang sangat bebas.
Dia pergi.
Dia
berkendara.
Dia
meninggalkan orang yang mencintainya.
Dia tidak
mau ditahan.
Dia merasa
hatinya berada di jalan.
Tetapi kalau
diperhatikan lebih dalam, ada sisi yang cukup sepi dari semua kebebasan itu.
Kalau kita
benar-benar bebas tetapi tidak punya tempat untuk pulang, apakah kita
benar-benar merasa punya rumah?
Menurut gue,
itulah bagian paling menarik dari lagu ini.
“Je ne
suis pas chez moi”
bisa diterjemahkan secara sederhana sebagai “aku tidak di rumah”.
Tetapi
secara emosional, gue merasa kalimat itu bisa berarti:
“Gue
belum menemukan tempat di mana gue benar-benar merasa menjadi diri gue
sendiri.”
Dan itu
nggak selalu berarti seseorang sedang tersesat.
Kadang
seseorang memang sedang berada dalam perjalanan untuk mencari dirinya sendiri.
Gue juga
melihat keputusan narator untuk meninggalkan seseorang bukan sebagai tindakan
yang otomatis egois.
Kalau dia
memang tahu bahwa dirinya tidak ingin menetap, memaksakan hubungan hanya karena
orang lain mencintainya justru bisa lebih menyakitkan.
Ada kalanya
kita harus jujur bahwa:
“Lo baik,
tapi gue bukan orang yang bisa tinggal di sini.”
Dan menurut
gue, itu jauh lebih baik daripada memberikan harapan palsu.
Tapi di sisi
lain, gue juga merasa lagu ini menyimpan pertanyaan yang cukup besar.
Sampai kapan
seseorang bisa terus berjalan?
Karena suatu
hari mungkin kita tetap membutuhkan tempat untuk pulang.
Mungkin
bukan rumah dalam bentuk bangunan.
Bisa jadi
seseorang.
Bisa jadi
keluarga.
Bisa jadi
kota.
Atau bahkan
diri sendiri.
Jadi buat
gue, “Moi” bukan cuma lagu tentang pergi.
Ini lagu
tentang mencari tahu di mana sebenarnya kita merasa menjadi diri sendiri.
Dan mungkin
terkadang kita memang harus pergi jauh dulu sebelum akhirnya tahu apa arti
“pulang”.
Fakta
Lagu yang Relevan
“Moi”
merupakan salah satu lagu Lolo Zouaï yang memperlihatkan karakter bilingual
dalam musiknya, dengan penggunaan bahasa Prancis dan Inggris secara bergantian.
Judul “Moi”
dalam bahasa Prancis berarti “aku” atau “saya”.
Penggunaan
kata tersebut terasa relevan dengan isi lagu karena keseluruhan cerita sangat
berpusat pada keputusan pribadi narator: ke mana dia pergi, siapa yang dia
tinggalkan, dan bagaimana dia menentukan tempat yang ingin dia tuju.
Tema
perjalanan dan ketidakberadaan di suatu tempat juga diperkuat dengan berbagai
gambaran seperti paspor, perjalanan, berkendara, meninggalkan seseorang, dan
“hati yang berada di jalan”.
Lirik
Lagu
[Intro]
Je ne suis pas chez moi
Chez moi
Je ne suis pas chez moi
Chez moi, chez moi
Moi-je ne suis
[Chorus]
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, -ez moi (moi)
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, chez moi
Je ne suis
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, -ez moi (moi)
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, chez
[Verse 1]
Yeah, I been in limbo
On my own, on my own
Since I left san francisco, oh (yeah, yeah)
Now home is where I lay my pillow, oh
Red lips, no kiss, and I’m gone
[Pre-chorus]
Hit ’em with the bilingual
Je sais que je m’en vais
You won’t see me again
Je ne suis pas
Moi-je ne suis
[Chorus]
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, -ez moi (moi)
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, chez moi
Je ne suis
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, -ez moi (je ne suis pas)
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, -ez moi
Je ne suis
[Verse 2]
Nascar jacket and a short skirt
He fell in love and he got hurt
I’m leavin’ tonight
He’s not on my mind
I ride solo
Three passport photos
Don’t hold on
Burn rubber, I’m gone
[Pre-chorus]
Hit ’em with the bilingual
Je sais que je m’en vais
You won’t see me again
Je ne suis pas
Moi-je ne suis
[Chorus]
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, -ez moi (moi)
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, chez moi
Je ne suis (je ne suis pas)
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez moi, -ez moi (je ne suis pas)
Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)
Yeah
[Bridge]
Oh, mon amour
You know you’re not the one
Who can make me stay, oh no, no
This isn’t my home, oh no, no
My heart is on the road
[Outro]
Stelly make it knock, yeah
-ez, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez, -ez moi (moi)
Chez-ez, -ez moi (-ez moi)
Chez-ez, -ez moi (je ne suis)
-ez, -ez moi (-ez moi)
Watch me walk, yeah
Chez-ez, -ez moi (moi)
St-stelly make it knock, yeah
Chez-ez, -ez moi (-ez moi)
Watch me walk, yeah
Chez-ez, -ez moi (je ne suis)
St-stelly make it knock, yeah
Tentang
Pensil Karyaku
Pensil
Karyaku
hadir untuk membahas makna, pesan, dan cerita di balik berbagai lagu yang
mungkin sering kita dengarkan, tetapi belum tentu kita pahami lebih dalam.
Lewat setiap
tulisan, kita mencoba melihat sebuah lagu bukan hanya dari melodinya, tetapi
juga dari cerita, pengalaman, pesan sosial, kehidupan, dan perasaan yang
mungkin terkandung di dalamnya.
Karena
terkadang, satu lagu bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.
Yuk, Ikut
Berdiskusi
Menurut
kalian, “rumah” itu sebenarnya tempat atau perasaan?
Pernah nggak
kalian berada di suatu tempat atau hubungan yang secara fisik kalian ada di
sana, tetapi secara emosional rasanya seperti “gue nggak di rumah”?
Dan menurut
kalian, apakah memilih pergi demi kebebasan adalah bentuk egoisme, atau justru
bentuk kejujuran terhadap diri sendiri?
Tulis
pendapat kalian di kolom komentar. Siapa tahu, pengalaman kalian tentang arti
“rumah” justru berbeda dari interpretasi gue.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar