Senin, 11 Mei 2020

Makna Lagu Lolo Zouaï – Moi

Lolo Zouaï – Moi

Tentang Penyanyi

Lolo Zouaï adalah penyanyi dan penulis lagu yang dikenal lewat perpaduan R&B, pop, hip-hop, dan pengaruh musik Prancis-Amerika.

Salah satu ciri khas Lolo Zouaï adalah penggunaan dua bahasa dalam karyanya. Bahasa Inggris dan Prancis sering muncul berdampingan, bukan hanya sebagai gaya musikal, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan cara dia bercerita.

Karakter tersebut terasa cukup kuat dalam “Moi”, karena perpindahan bahasa Inggris dan Prancis ikut memperkuat tema tentang identitas, rumah, perjalanan, dan perasaan berada di antara dua dunia.


Tentang Lagu

“Moi” adalah lagu yang terasa seperti perjalanan seseorang yang tidak merasa benar-benar berada di rumahnya sendiri.

Frasa Prancis yang terus diulang dalam lagu ini adalah:

“Je ne suis pas chez moi”

yang secara sederhana dapat dipahami sebagai “Aku tidak berada di rumahku” atau “Aku bukan berada di tempat yang terasa seperti rumah.”

Menariknya, konsep “rumah” dalam lagu ini tidak hanya berkaitan dengan bangunan atau alamat.

Rumah bisa berarti tempat seseorang merasa diterima.

Rumah bisa berarti hubungan.

Rumah bisa berarti kota tempat kita tinggal.

Bahkan rumah bisa berarti perasaan nyaman terhadap diri sendiri.

Dan dalam lagu ini, narator justru merasa bahwa dirinya tidak benar-benar menemukan tempat tersebut.

Dia pernah meninggalkan San Francisco, kemudian hidup dalam keadaan seperti berada di antara satu tempat dan tempat lainnya.

Sampai akhirnya muncul pemikiran bahwa rumah hanyalah tempat dia meletakkan bantal untuk tidur.

Kalimat tersebut terasa sederhana, tetapi sebenarnya cukup menyedihkan.

Karena kalau rumah hanya menjadi tempat untuk tidur, berarti belum tentu ada tempat yang benar-benar membuat seseorang merasa pulang.


Makna / Interpretasi Lagu

Menurut interpretasi gue, “Moi” adalah lagu tentang seseorang yang memilih perjalanan daripada menetap di tempat yang tidak terasa seperti rumah.

Narator berada dalam kondisi seperti limbo.

Dia sudah meninggalkan tempat sebelumnya, tetapi belum benar-benar menemukan tempat baru yang bisa disebut rumah.

Ada rasa bebas di dalam lagu ini, tetapi sekaligus ada kesepian.

Dia bisa pergi ke mana saja.

Dia bisa membawa paspornya.

Dia bisa berkendara sendirian.

Dia bisa meninggalkan seseorang.

Tetapi kebebasan tersebut juga memiliki harga:

tidak memiliki tempat yang benar-benar terasa sebagai rumah.

Hal menarik lainnya adalah narator tampaknya tidak ingin menjadikan hubungan romantis sebagai alasan untuk menetap.

Ada seseorang yang jatuh cinta kepadanya.

Tetapi dia tetap memilih pergi.

Bukan karena orang tersebut tidak cukup baik, melainkan karena dirinya sendiri belum ingin atau belum mampu menjadikan hubungan tersebut sebagai tempat untuk menetap.

Ketika dia mengatakan bahwa hatinya berada di jalan, menurut gue itu menjadi inti dari lagu ini.

Ada orang yang memang merasa paling hidup ketika bergerak.

Bukan ketika menetap.


Tema yang Dibahas

Rumah yang Tidak Lagi Terasa Seperti Rumah

Tema paling jelas dalam lagu ini adalah kehilangan rasa “pulang”.

Rumah biasanya diasosiasikan dengan keamanan, kenyamanan, dan tempat kembali.

Tetapi di sini, narator justru mengatakan bahwa dirinya tidak berada di rumah.

Ini bisa dibaca secara literal sebagai seseorang yang sering berpindah tempat.

Tetapi secara emosional, maknanya bisa lebih dalam.

Seseorang bisa tinggal bertahun-tahun di sebuah kota dan tetap merasa asing.

Seseorang juga bisa tinggal bersama pasangan tetapi tetap merasa tidak benar-benar diterima.

Jadi, rumah tidak selalu ditentukan oleh alamat.


Hidup dalam Limbo

Narator menggambarkan dirinya berada dalam kondisi seperti limbo.

Dia sudah pergi dari tempat lama, tetapi belum menemukan tempat baru.

Kondisi seperti ini menurut gue cukup relate dengan kehidupan banyak orang.

Misalnya ketika seseorang pindah kota untuk bekerja.

Atau ketika seseorang meninggalkan hubungan lama tetapi belum tahu sebenarnya ingin menuju ke mana.

Kita sudah tahu bahwa kita tidak ingin kembali.

Tetapi kita juga belum tahu harus pergi ke mana.

Dan justru fase seperti itu bisa menjadi fase paling membingungkan.


Kebebasan vs Kebutuhan untuk Menetap

Lagu ini juga memperlihatkan konflik antara dua hal:

kebebasan dan rasa memiliki.

Narator jelas menyukai kebebasan.

Dia bepergian sendiri.

Dia siap meninggalkan seseorang.

Dia membawa paspor.

Dia bahkan menegaskan bahwa hatinya berada di jalan.

Tetapi kebebasan berarti dia tidak memiliki tempat tetap untuk berlabuh.

Jadi ada pertanyaan menarik di balik lagu ini:

Apakah bebas selalu berarti bahagia?

Menurut gue, belum tentu.

Kebebasan bisa terasa menyenangkan ketika kita memang ingin pergi.

Tetapi kebebasan juga bisa terasa sepi ketika sebenarnya kita ingin menemukan tempat untuk pulang.


Tidak Semua Cinta Bisa Membuat Seseorang Bertahan

Ada seseorang yang mencintai narator.

Tetapi cinta itu tidak cukup untuk membuatnya tinggal.

Ini menarik karena dalam banyak cerita romantis, cinta sering digambarkan sebagai alasan seseorang bertahan.

Namun “Moi” justru menawarkan perspektif berbeda.

Kadang seseorang bisa mencintai kita dengan tulus, tetapi kita tetap tidak bisa tinggal bersamanya.

Bukan berarti cintanya tidak berharga.

Hanya saja, cinta dan kesiapan untuk menetap adalah dua hal yang berbeda.


Identitas di Antara Dua Dunia

Penggunaan bahasa Inggris dan Prancis juga terasa relevan dengan tema identitas.

Narator bergerak di antara dua bahasa, sama seperti dia bergerak di antara tempat dan pengalaman hidup.

Bahasa dalam lagu bukan sekadar ornamen.

Pergantian bahasa membuat karakter narator terasa seperti seseorang yang memiliki lebih dari satu sisi kehidupan.

Ada sisi yang berasal dari satu tempat.

Ada sisi yang terbentuk dari tempat lain.

Dan mungkin karena itulah dia tidak mudah merasa sepenuhnya menjadi bagian dari satu tempat tertentu.


Pergi Sebelum Terlambat

Ada energi yang sangat kuat dalam keputusan narator untuk pergi.

Dia tidak ingin ditahan.

Dia tidak ingin seseorang membuatnya berubah pikiran.

Bahkan ketika ada hubungan yang berpotensi menjadi tempat untuk menetap, dia tetap memilih jalan.

Menurut gue, ini bisa dibaca sebagai bentuk kejujuran.

Daripada bertahan hanya karena kasihan atau takut menyakiti seseorang, lebih baik mengatakan bahwa kita memang ingin pergi.

Karena memaksakan diri tinggal juga pada akhirnya bisa menyakiti kedua pihak.


“My Heart Is on the Road”

Buat gue, ini salah satu gambaran paling kuat dalam lagu.

Hati yang berada di jalan menggambarkan seseorang yang merasa identitas dan kebahagiaannya justru ditemukan dalam perjalanan.

Jalan menjadi simbol kebebasan.

Tetapi sekaligus menjadi simbol ketidakpastian.

Dia tidak tahu pasti di mana akan berhenti.

Dan mungkin dia memang tidak ingin tahu.

Karena yang dia cari bukan tujuan akhir.

Yang dia cari adalah perasaan bebas untuk terus bergerak.


Pendapat / Analisis

Menurut gue, “Moi” punya kesan yang unik karena sekilas terdengar seperti lagu tentang seseorang yang sangat bebas.

Dia pergi.

Dia berkendara.

Dia meninggalkan orang yang mencintainya.

Dia tidak mau ditahan.

Dia merasa hatinya berada di jalan.

Tetapi kalau diperhatikan lebih dalam, ada sisi yang cukup sepi dari semua kebebasan itu.

Kalau kita benar-benar bebas tetapi tidak punya tempat untuk pulang, apakah kita benar-benar merasa punya rumah?

Menurut gue, itulah bagian paling menarik dari lagu ini.

“Je ne suis pas chez moi” bisa diterjemahkan secara sederhana sebagai “aku tidak di rumah”.

Tetapi secara emosional, gue merasa kalimat itu bisa berarti:

“Gue belum menemukan tempat di mana gue benar-benar merasa menjadi diri gue sendiri.”

Dan itu nggak selalu berarti seseorang sedang tersesat.

Kadang seseorang memang sedang berada dalam perjalanan untuk mencari dirinya sendiri.

Gue juga melihat keputusan narator untuk meninggalkan seseorang bukan sebagai tindakan yang otomatis egois.

Kalau dia memang tahu bahwa dirinya tidak ingin menetap, memaksakan hubungan hanya karena orang lain mencintainya justru bisa lebih menyakitkan.

Ada kalanya kita harus jujur bahwa:

“Lo baik, tapi gue bukan orang yang bisa tinggal di sini.”

Dan menurut gue, itu jauh lebih baik daripada memberikan harapan palsu.

Tapi di sisi lain, gue juga merasa lagu ini menyimpan pertanyaan yang cukup besar.

Sampai kapan seseorang bisa terus berjalan?

Karena suatu hari mungkin kita tetap membutuhkan tempat untuk pulang.

Mungkin bukan rumah dalam bentuk bangunan.

Bisa jadi seseorang.

Bisa jadi keluarga.

Bisa jadi kota.

Atau bahkan diri sendiri.

Jadi buat gue, “Moi” bukan cuma lagu tentang pergi.

Ini lagu tentang mencari tahu di mana sebenarnya kita merasa menjadi diri sendiri.

Dan mungkin terkadang kita memang harus pergi jauh dulu sebelum akhirnya tahu apa arti “pulang”.


Fakta Lagu yang Relevan

“Moi” merupakan salah satu lagu Lolo Zouaï yang memperlihatkan karakter bilingual dalam musiknya, dengan penggunaan bahasa Prancis dan Inggris secara bergantian.

Judul “Moi” dalam bahasa Prancis berarti “aku” atau “saya”.

Penggunaan kata tersebut terasa relevan dengan isi lagu karena keseluruhan cerita sangat berpusat pada keputusan pribadi narator: ke mana dia pergi, siapa yang dia tinggalkan, dan bagaimana dia menentukan tempat yang ingin dia tuju.

Tema perjalanan dan ketidakberadaan di suatu tempat juga diperkuat dengan berbagai gambaran seperti paspor, perjalanan, berkendara, meninggalkan seseorang, dan “hati yang berada di jalan”.


Lirik Lagu

[Intro]

Je ne suis pas chez moi

Chez moi

Je ne suis pas chez moi

Chez moi, chez moi

Moi-je ne suis

 

[Chorus]

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, -ez moi (moi)

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, chez moi

Je ne suis

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, -ez moi (moi)

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, chez

 

[Verse 1]

Yeah, I been in limbo

On my own, on my own

Since I left san francisco, oh (yeah, yeah)

Now home is where I lay my pillow, oh

Red lips, no kiss, and I’m gone

 

[Pre-chorus]

Hit ’em with the bilingual

Je sais que je m’en vais

You won’t see me again

Je ne suis pas

Moi-je ne suis

 

[Chorus]

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, -ez moi (moi)

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, chez moi

Je ne suis

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, -ez moi (je ne suis pas)

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, -ez moi

Je ne suis

 

[Verse 2]

Nascar jacket and a short skirt

He fell in love and he got hurt

I’m leavin’ tonight

He’s not on my mind

I ride solo

Three passport photos

Don’t hold on

Burn rubber, I’m gone

 

[Pre-chorus]

Hit ’em with the bilingual

Je sais que je m’en vais

You won’t see me again

Je ne suis pas

Moi-je ne suis

 

[Chorus]

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, -ez moi (moi)

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, chez moi

Je ne suis (je ne suis pas)

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez moi, -ez moi (je ne suis pas)

Chez-ez moi, -ez moi (-ez moi)

Yeah

 

[Bridge]

Oh, mon amour

You know you’re not the one

Who can make me stay, oh no, no

This isn’t my home, oh no, no

My heart is on the road

[Outro]

Stelly make it knock, yeah

-ez, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez, -ez moi (moi)

Chez-ez, -ez moi (-ez moi)

Chez-ez, -ez moi (je ne suis)

-ez, -ez moi (-ez moi)

Watch me walk, yeah

Chez-ez, -ez moi (moi)

St-stelly make it knock, yeah

Chez-ez, -ez moi (-ez moi)

Watch me walk, yeah

Chez-ez, -ez moi (je ne suis)

St-stelly make it knock, yeah


Tentang Pensil Karyaku

Pensil Karyaku hadir untuk membahas makna, pesan, dan cerita di balik berbagai lagu yang mungkin sering kita dengarkan, tetapi belum tentu kita pahami lebih dalam.

Lewat setiap tulisan, kita mencoba melihat sebuah lagu bukan hanya dari melodinya, tetapi juga dari cerita, pengalaman, pesan sosial, kehidupan, dan perasaan yang mungkin terkandung di dalamnya.

Karena terkadang, satu lagu bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.


Yuk, Ikut Berdiskusi

Menurut kalian, “rumah” itu sebenarnya tempat atau perasaan?

Pernah nggak kalian berada di suatu tempat atau hubungan yang secara fisik kalian ada di sana, tetapi secara emosional rasanya seperti “gue nggak di rumah”?

Dan menurut kalian, apakah memilih pergi demi kebebasan adalah bentuk egoisme, atau justru bentuk kejujuran terhadap diri sendiri?

Tulis pendapat kalian di kolom komentar. Siapa tahu, pengalaman kalian tentang arti “rumah” justru berbeda dari interpretasi gue.

  




Tidak ada komentar: