Tentang
Penyanyi
Billie
Eilish
adalah penyanyi dan penulis lagu asal Amerika Serikat yang dikenal lewat musik
dengan karakter gelap, atmosferik, intim, dan emosional.
Bersama
kakaknya, FINNEAS, Billie sering menghadirkan lagu yang membicarakan
sisi psikologis manusia, hubungan, ketakutan, kehilangan, kerentanan, dan
berbagai emosi yang tidak selalu mudah diungkapkan.
Karakter
tersebut sangat terasa dalam “No Time To Die”, yang menggunakan suasana
gelap dan dramatis untuk menggambarkan seseorang yang menyadari bahwa hubungan
yang selama ini dipercaya ternyata dibangun di atas kebohongan dan
pengkhianatan.
Tentang
Lagu
“No Time
To Die”
merupakan lagu tema untuk film James Bond dengan judul yang sama.
Lagu ini
menggambarkan perasaan seseorang yang mengalami pengkhianatan dari orang yang
sebelumnya sangat dipercaya.
Tokoh dalam
lagu awalnya melihat orang tersebut sebagai pasangan dan bagian penting dalam
kehidupannya.
Namun
kemudian muncul kesadaran bahwa hubungan tersebut tidak seperti yang selama ini
dia bayangkan.
Orang yang
dianggap berada di pihaknya ternyata justru tidak pernah benar-benar berpihak
kepadanya.
Karena itu,
lagu ini bergerak dari cinta → pengkhianatan → kesadaran → kemarahan →
penerimaan → pelepasan.
Yang
menarik, tokohnya tidak memilih untuk terus menangisi hubungan tersebut.
Pada
akhirnya muncul keputusan:
tidak ada
lagi waktu untuk menangisi orang yang sudah menghancurkan kepercayaannya.
Makna /
Interpretasi Lagu
Menurut
interpretasi gue, inti lagu ini adalah tentang pengkhianatan yang membuat
seseorang kehilangan kepercayaan, tetapi sekaligus memaksanya menjadi lebih
kuat.
Bagian awal
lagu terasa seperti pengakuan bahwa sejak awal mungkin ada tanda-tanda yang
seharusnya diperhatikan.
Ada
kesadaran bahwa dia seharusnya tidak terus bertahan.
Namun ketika
seseorang sudah terlalu mencintai, tanda-tanda tersebut sering kali menjadi
sulit dilihat.
Kita ingin
percaya bahwa orang yang kita cintai punya niat baik.
Kita membela
mereka.
Mencari
alasan untuk perilaku mereka.
Sampai
akhirnya kenyataan menjadi terlalu jelas untuk diabaikan.
Pertanyaan
seperti “Was I stupid to love you?” menurut gue menunjukkan fase ketika
seseorang mulai menyalahkan dirinya sendiri.
Dia bukan
hanya marah kepada orang yang berbohong.
Dia juga
bertanya:
“Kenapa
gue bisa sampai percaya?”
Dan menurut
gue, inilah salah satu luka paling berat dari pengkhianatan.
Bukan hanya
kehilangan seseorang.
Tetapi
kehilangan kepercayaan terhadap penilaian diri sendiri.
Tema yang
Dibahas
Pengkhianatan
dalam Hubungan
Tema
terbesar dalam lagu ini tentu saja adalah pengkhianatan.
Seseorang
yang sebelumnya dianggap sebagai pasangan dan tempat bersandar ternyata
menyimpan sesuatu yang berbeda dari apa yang dipercayai tokoh utama.
Pengkhianatan
menjadi semakin menyakitkan ketika dilakukan oleh orang yang paling kita
percaya.
Kalau orang
asing berbohong kepada kita, mungkin kita bisa langsung pergi.
Tetapi
ketika orang yang kita cintai melakukannya, kita harus menghadapi dua hal
sekaligus:
kehilangan orang tersebut dan kehilangan kepercayaan yang pernah kita berikan.
Cinta
yang Ternyata Dibangun di Atas Kebohongan
Ada
kesadaran bahwa hubungan yang selama ini dianggap nyata ternyata memiliki sisi
yang tidak diketahui.
Menurut gue,
bagian tentang “fallen for a lie” sangat penting.
Karena yang
runtuh bukan cuma hubungan.
Realitas
yang selama ini dipercaya juga ikut runtuh.
Kenangan
yang sebelumnya terasa indah tiba-tiba bisa terlihat berbeda setelah kita
mengetahui kebenaran.
Kita mulai
mempertanyakan semuanya.
“Apakah
waktu itu dia benar-benar mencintai gue?”
“Apakah
semua yang dia katakan benar?”
“Apakah
selama ini gue cuma percaya pada sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada?”
Itulah kenapa pengkhianatan sering terasa seperti kehilangan realitas.
Menyalahkan
Diri Sendiri
Tokoh lagu
mempertanyakan apakah dirinya bodoh karena mencintai orang tersebut.
Menurut gue,
ini adalah reaksi yang sangat manusiawi setelah mengalami pengkhianatan.
Kita sering
merasa seharusnya bisa melihat tanda-tandanya.
Seharusnya
lebih hati-hati.
Seharusnya
tidak terlalu percaya.
Namun
menurut gue, mencintai seseorang dengan tulus bukan sebuah kebodohan.
Yang salah
adalah orang yang menyalahgunakan kepercayaan tersebut.
Jadi pertanyaan “apakah gue bodoh karena mencintai lo?” sebenarnya lebih menunjukkan betapa dalam luka yang ditinggalkan pengkhianatan.
“Fool Me
Once, Fool Me Twice”
Ungkapan “fool
me once, fool me twice” menggambarkan pola ketika seseorang memberikan
kesempatan kedua setelah pernah dibohongi.
Menurut gue,
bagian ini menunjukkan adanya batas.
Sekali
mungkin kita bisa menganggapnya sebagai kesalahan.
Tetapi kalau
pola yang sama terus berulang, kita harus mulai bertanya apakah kita sedang
mempertahankan hubungan atau justru mempertahankan luka.
Ada titik
ketika memaafkan tidak lagi berarti harus kembali.
Kita bisa memaafkan seseorang sambil tetap memilih untuk pergi.
Cinta
yang Berubah Menjadi Ancaman
Ada
pertanyaan menarik tentang apakah seseorang itu “death or paradise”.
Menurut gue,
ini adalah metafora untuk hubungan yang memiliki dua sisi ekstrem.
Orang yang
sama bisa terasa seperti tempat paling indah ketika kita percaya kepadanya.
Tetapi
ketika kebenaran terbongkar, orang tersebut bisa menjadi sumber kehancuran
emosional.
Ini
menunjukkan bahwa cinta tidak selalu terasa aman.
Terutama ketika cinta diberikan kepada orang yang ternyata tidak menjaga kepercayaan kita.
Belajar
Melepaskan
Ada
perubahan besar dari awal hingga akhir lagu.
Awalnya
tokoh utama masih mempertanyakan dirinya sendiri.
Tetapi
kemudian dia mulai berkata bahwa orang tersebut bukan lagi urusannya.
Menurut gue,
ini merupakan titik ketika seseorang mulai mendapatkan kembali kendali atas
dirinya.
Dia tidak
lagi mencoba memahami semua alasan.
Tidak lagi
berusaha mendapatkan jawaban.
Tidak lagi
menunggu orang tersebut berubah.
Dia memilih
pergi.
Dan terkadang, penyembuhan memang dimulai ketika kita berhenti mencari penjelasan dari orang yang justru membuat kita terluka.
Tidak
Memberikan Kesempatan untuk Melihat Air Mata
Ada kalimat
yang menunjukkan bahwa orang tersebut tidak akan lagi melihat tangisannya.
Menurut gue,
ini bukan berarti menangis adalah kelemahan.
Justru
sebaliknya.
Ini seperti
pernyataan bahwa orang tersebut sudah tidak memiliki akses terhadap sisi
paling rentan dirinya lagi.
Dia pernah
mendapatkan kepercayaan.
Pernah
mendapatkan cinta.
Pernah
melihat sisi rapuhnya.
Tetapi
setelah semuanya dihancurkan, akses tersebut ditutup.
Masa Lalu
sebagai Pelajaran
Ketika
wajah-wajah dari masa lalu kembali muncul, tokoh lagu seperti sedang menghadapi
berbagai pengalaman yang pernah membentuk dirinya.
Menurut gue,
ini menunjukkan bahwa luka lama bisa menjadi pelajaran.
Kita tidak
selalu bisa mencegah seseorang menyakiti kita.
Tetapi kita
bisa belajar mengenali pola.
Belajar
menetapkan batas.
Dan belajar
bahwa tidak semua orang yang mengatakan dirinya berada di pihak kita
benar-benar akan berdiri di sana ketika keadaan menjadi sulit.
Pendapat
/ Analisis
Menurut gue,
“No Time To Die” adalah lagu yang sangat kuat tentang fase ketika
seseorang akhirnya berhenti memohon penjelasan dari orang yang sudah
mengkhianatinya.
Yang paling
gue suka adalah perubahan emosinya.
Di awal,
tokohnya masih mempertanyakan dirinya sendiri:
“Apakah
gue bodoh karena mencintai lo?”
Ini adalah
fase ketika korban pengkhianatan sering kali justru menyalahkan diri sendiri.
Padahal
kalau kita mencintai seseorang dengan tulus, kita memang memberikan
kepercayaan.
Kita tidak
mungkin menjalani hubungan sambil terus menganggap pasangan kita sebagai
tersangka.
Jadi menurut
gue, percaya kepada seseorang bukan sebuah kesalahan.
Yang menjadi
masalah adalah ketika kepercayaan itu disalahgunakan.
Dan gue juga
melihat bagian “you were never on my side” sebagai salah satu titik
paling pahit.
Karena
terkadang hal yang paling menyakitkan bukan mengetahui bahwa seseorang
berbohong.
Tetapi
mengetahui bahwa selama kita menganggapnya sebagai orang yang paling dekat,
dia ternyata tidak pernah berada di pihak kita.
Itu bisa
membuat kita mempertanyakan seluruh hubungan.
Apalagi
ketika kita sudah berusaha mempertahankan seseorang yang sebenarnya tidak
melakukan hal yang sama untuk kita.
Menurut gue,
lagu ini juga menunjukkan bahwa closure tidak selalu datang dari orang yang
menyakiti kita.
Kadang kita
ingin orang tersebut menjelaskan semuanya.
Kenapa dia
berbohong?
Kenapa dia
melakukan itu?
Apakah dia
pernah benar-benar mencintai kita?
Tetapi tidak
semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Dan kalau
kita terus menunggu jawaban dari orang tersebut, kita bisa terus terjebak.
Karena itu,
keputusan untuk berkata bahwa orang tersebut bukan lagi urusan kita terasa
penting.
Bukan karena
rasa sakit langsung hilang.
Tetapi
karena akhirnya kita memilih untuk tidak membiarkan orang tersebut
mengendalikan hidup kita lagi.
Menurut gue,
“No Time To Die” pada akhirnya bukan tentang kematian secara harfiah
saja.
Ini bisa
dibaca sebagai simbol dari keputusan untuk tidak lagi “mati” secara emosional
demi hubungan yang sudah selesai.
Tidak ada
lagi waktu untuk terus menangisi orang yang sama.
Tidak ada
lagi waktu untuk terus menyalahkan diri sendiri.
Tidak ada
lagi waktu untuk mengejar seseorang yang sudah menunjukkan bahwa dia tidak
berada di pihak kita.
Kadang
satu-satunya cara untuk benar-benar menang dari pengkhianatan adalah berhenti
memberikan orang tersebut kesempatan untuk menghancurkan kita lagi.
Fakta
Lagu yang Relevan
“No Time
To Die”
merupakan lagu tema utama film James Bond No Time to Die yang
dibawakan oleh Billie Eilish.
Lagu ini
ditulis oleh Billie Eilish dan FINNEAS, dengan produksi yang melibatkan
FINNEAS bersama Hans Zimmer dan tim produksi musik film tersebut.
Lagu ini
dirilis pada 2020 dan memiliki karakter yang sangat berbeda dari lagu
pop konvensional karena menggunakan atmosfer yang gelap, dramatis, dan
sinematik.
Secara
tematik, liriknya juga cocok dengan dunia James Bond yang penuh dengan
kepercayaan, pengkhianatan, bahaya, dan hubungan yang tidak selalu bisa
dipercaya.
Lagu ini
kemudian mendapatkan pengakuan besar dan memenangkan Academy Award untuk
Best Original Song, menjadikannya salah satu pencapaian penting dalam
karier Billie Eilish.
Lirik
Lagu
I'd leave alone
Just goes to show
That the blood you bleed
Is just the blood you own
We were a pair
But I saw you there
Too much to bear
You were my life, but life is far away from fair
Was I stupid to love you?
Was I reckless to help?
Was it obvious to everybody else?
That I'd fallen for a lie
You were never on my side
Fool me once, fool me twice
Are you death or paradise?
Now you'll never see me cry
There's just no time to die
[Verse 2]
I let it burn
You're no longer my concern
Faces from my past return
Another lesson yet to learn
That I'd fallen for a lie
You were never on my side
Fool me once, fool me twice
Are you death or paradise?
Now you'll never see me cry
There's just no time to die
[Refrain]
No time to die
No, no time to die
[Outro]
Fool me once, fool me twice
Are you death or paradise?
Now you'll never see me cry
There's just no time to die
Tentang
Pensil Karyaku
Pensil
Karyaku
hadir untuk membahas makna, pesan, dan cerita di balik berbagai lagu yang
mungkin sering kita dengarkan, tetapi belum tentu kita pahami lebih dalam.
Lewat setiap
tulisan, kita mencoba melihat sebuah lagu bukan hanya dari melodinya, tetapi
juga dari cerita, pengalaman, pesan sosial, kehidupan, dan perasaan yang
mungkin terkandung di dalamnya.
Karena
terkadang, satu lagu bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.
Yuk, Ikut
Berdiskusi
Menurut gue,
“No Time To Die” punya pertanyaan yang cukup berat:
Kalau
seseorang yang paling lo percaya ternyata mengkhianati lo, mana yang lebih
sulit—memaafkan orang tersebut atau memaafkan diri sendiri karena pernah
mempercayainya?
Menurut lo,
apakah seseorang yang sudah pernah berbohong masih layak mendapatkan kesempatan
kedua?
Dan satu
lagi:
Apakah
closure memang harus datang dari orang yang menyakiti kita, atau sebenarnya
kita bisa mendapatkan closure dengan memilih pergi tanpa pernah mendapatkan
semua jawabannya?
Ceritain
pendapat lo di kolom komentar. Bisa jadi pengalaman lo justru memberikan sudut
pandang lain tentang arti “No Time To Die.”





Tidak ada komentar:
Posting Komentar