Selasa, 03 Maret 2020

Makna Lagu Billie Eilish – No Time To Die


Billie Eilish – No Time To Die [Terjemahan]

Artist          : Billie Eilish
Title            : No Time to Die
Lyricist         : Finneas & Billie Eilish
Produced       : Stephen Lipson & Finneas
Released       : 14 Februari 2020
Soundtrack    : James Bond 007: No time to Die 

Tentang Penyanyi

Billie Eilish adalah penyanyi dan penulis lagu asal Amerika Serikat yang dikenal lewat musik dengan karakter gelap, atmosferik, intim, dan emosional.

Bersama kakaknya, FINNEAS, Billie sering menghadirkan lagu yang membicarakan sisi psikologis manusia, hubungan, ketakutan, kehilangan, kerentanan, dan berbagai emosi yang tidak selalu mudah diungkapkan.

Karakter tersebut sangat terasa dalam “No Time To Die”, yang menggunakan suasana gelap dan dramatis untuk menggambarkan seseorang yang menyadari bahwa hubungan yang selama ini dipercaya ternyata dibangun di atas kebohongan dan pengkhianatan.


Tentang Lagu

“No Time To Die” merupakan lagu tema untuk film James Bond dengan judul yang sama.

Lagu ini menggambarkan perasaan seseorang yang mengalami pengkhianatan dari orang yang sebelumnya sangat dipercaya.

Tokoh dalam lagu awalnya melihat orang tersebut sebagai pasangan dan bagian penting dalam kehidupannya.

Namun kemudian muncul kesadaran bahwa hubungan tersebut tidak seperti yang selama ini dia bayangkan.

Orang yang dianggap berada di pihaknya ternyata justru tidak pernah benar-benar berpihak kepadanya.

Karena itu, lagu ini bergerak dari cinta → pengkhianatan → kesadaran → kemarahan → penerimaan → pelepasan.

Yang menarik, tokohnya tidak memilih untuk terus menangisi hubungan tersebut.

Pada akhirnya muncul keputusan:

tidak ada lagi waktu untuk menangisi orang yang sudah menghancurkan kepercayaannya.


Makna / Interpretasi Lagu

Menurut interpretasi gue, inti lagu ini adalah tentang pengkhianatan yang membuat seseorang kehilangan kepercayaan, tetapi sekaligus memaksanya menjadi lebih kuat.

Bagian awal lagu terasa seperti pengakuan bahwa sejak awal mungkin ada tanda-tanda yang seharusnya diperhatikan.

Ada kesadaran bahwa dia seharusnya tidak terus bertahan.

Namun ketika seseorang sudah terlalu mencintai, tanda-tanda tersebut sering kali menjadi sulit dilihat.

Kita ingin percaya bahwa orang yang kita cintai punya niat baik.

Kita membela mereka.

Mencari alasan untuk perilaku mereka.

Sampai akhirnya kenyataan menjadi terlalu jelas untuk diabaikan.

Pertanyaan seperti “Was I stupid to love you?” menurut gue menunjukkan fase ketika seseorang mulai menyalahkan dirinya sendiri.

Dia bukan hanya marah kepada orang yang berbohong.

Dia juga bertanya:

“Kenapa gue bisa sampai percaya?”

Dan menurut gue, inilah salah satu luka paling berat dari pengkhianatan.

Bukan hanya kehilangan seseorang.

Tetapi kehilangan kepercayaan terhadap penilaian diri sendiri.


Tema yang Dibahas

Pengkhianatan dalam Hubungan

Tema terbesar dalam lagu ini tentu saja adalah pengkhianatan.

Seseorang yang sebelumnya dianggap sebagai pasangan dan tempat bersandar ternyata menyimpan sesuatu yang berbeda dari apa yang dipercayai tokoh utama.

Pengkhianatan menjadi semakin menyakitkan ketika dilakukan oleh orang yang paling kita percaya.

Kalau orang asing berbohong kepada kita, mungkin kita bisa langsung pergi.

Tetapi ketika orang yang kita cintai melakukannya, kita harus menghadapi dua hal sekaligus:

kehilangan orang tersebut dan kehilangan kepercayaan yang pernah kita berikan.

Cinta yang Ternyata Dibangun di Atas Kebohongan

Ada kesadaran bahwa hubungan yang selama ini dianggap nyata ternyata memiliki sisi yang tidak diketahui.

Menurut gue, bagian tentang “fallen for a lie” sangat penting.

Karena yang runtuh bukan cuma hubungan.

Realitas yang selama ini dipercaya juga ikut runtuh.

Kenangan yang sebelumnya terasa indah tiba-tiba bisa terlihat berbeda setelah kita mengetahui kebenaran.

Kita mulai mempertanyakan semuanya.

“Apakah waktu itu dia benar-benar mencintai gue?”

“Apakah semua yang dia katakan benar?”

“Apakah selama ini gue cuma percaya pada sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada?”

Itulah kenapa pengkhianatan sering terasa seperti kehilangan realitas.

Menyalahkan Diri Sendiri

Tokoh lagu mempertanyakan apakah dirinya bodoh karena mencintai orang tersebut.

Menurut gue, ini adalah reaksi yang sangat manusiawi setelah mengalami pengkhianatan.

Kita sering merasa seharusnya bisa melihat tanda-tandanya.

Seharusnya lebih hati-hati.

Seharusnya tidak terlalu percaya.

Namun menurut gue, mencintai seseorang dengan tulus bukan sebuah kebodohan.

Yang salah adalah orang yang menyalahgunakan kepercayaan tersebut.

Jadi pertanyaan “apakah gue bodoh karena mencintai lo?” sebenarnya lebih menunjukkan betapa dalam luka yang ditinggalkan pengkhianatan.

“Fool Me Once, Fool Me Twice”

Ungkapan “fool me once, fool me twice” menggambarkan pola ketika seseorang memberikan kesempatan kedua setelah pernah dibohongi.

Menurut gue, bagian ini menunjukkan adanya batas.

Sekali mungkin kita bisa menganggapnya sebagai kesalahan.

Tetapi kalau pola yang sama terus berulang, kita harus mulai bertanya apakah kita sedang mempertahankan hubungan atau justru mempertahankan luka.

Ada titik ketika memaafkan tidak lagi berarti harus kembali.

Kita bisa memaafkan seseorang sambil tetap memilih untuk pergi.

Cinta yang Berubah Menjadi Ancaman

Ada pertanyaan menarik tentang apakah seseorang itu “death or paradise”.

Menurut gue, ini adalah metafora untuk hubungan yang memiliki dua sisi ekstrem.

Orang yang sama bisa terasa seperti tempat paling indah ketika kita percaya kepadanya.

Tetapi ketika kebenaran terbongkar, orang tersebut bisa menjadi sumber kehancuran emosional.

Ini menunjukkan bahwa cinta tidak selalu terasa aman.

Terutama ketika cinta diberikan kepada orang yang ternyata tidak menjaga kepercayaan kita.

Belajar Melepaskan

Ada perubahan besar dari awal hingga akhir lagu.

Awalnya tokoh utama masih mempertanyakan dirinya sendiri.

Tetapi kemudian dia mulai berkata bahwa orang tersebut bukan lagi urusannya.

Menurut gue, ini merupakan titik ketika seseorang mulai mendapatkan kembali kendali atas dirinya.

Dia tidak lagi mencoba memahami semua alasan.

Tidak lagi berusaha mendapatkan jawaban.

Tidak lagi menunggu orang tersebut berubah.

Dia memilih pergi.

Dan terkadang, penyembuhan memang dimulai ketika kita berhenti mencari penjelasan dari orang yang justru membuat kita terluka.

Tidak Memberikan Kesempatan untuk Melihat Air Mata

Ada kalimat yang menunjukkan bahwa orang tersebut tidak akan lagi melihat tangisannya.

Menurut gue, ini bukan berarti menangis adalah kelemahan.

Justru sebaliknya.

Ini seperti pernyataan bahwa orang tersebut sudah tidak memiliki akses terhadap sisi paling rentan dirinya lagi.

Dia pernah mendapatkan kepercayaan.

Pernah mendapatkan cinta.

Pernah melihat sisi rapuhnya.

Tetapi setelah semuanya dihancurkan, akses tersebut ditutup.

 

Masa Lalu sebagai Pelajaran

Ketika wajah-wajah dari masa lalu kembali muncul, tokoh lagu seperti sedang menghadapi berbagai pengalaman yang pernah membentuk dirinya.

Menurut gue, ini menunjukkan bahwa luka lama bisa menjadi pelajaran.

Kita tidak selalu bisa mencegah seseorang menyakiti kita.

Tetapi kita bisa belajar mengenali pola.

Belajar menetapkan batas.

Dan belajar bahwa tidak semua orang yang mengatakan dirinya berada di pihak kita benar-benar akan berdiri di sana ketika keadaan menjadi sulit.


Pendapat / Analisis

Menurut gue, “No Time To Die” adalah lagu yang sangat kuat tentang fase ketika seseorang akhirnya berhenti memohon penjelasan dari orang yang sudah mengkhianatinya.

Yang paling gue suka adalah perubahan emosinya.

Di awal, tokohnya masih mempertanyakan dirinya sendiri:

“Apakah gue bodoh karena mencintai lo?”

Ini adalah fase ketika korban pengkhianatan sering kali justru menyalahkan diri sendiri.

Padahal kalau kita mencintai seseorang dengan tulus, kita memang memberikan kepercayaan.

Kita tidak mungkin menjalani hubungan sambil terus menganggap pasangan kita sebagai tersangka.

Jadi menurut gue, percaya kepada seseorang bukan sebuah kesalahan.

Yang menjadi masalah adalah ketika kepercayaan itu disalahgunakan.

Dan gue juga melihat bagian “you were never on my side” sebagai salah satu titik paling pahit.

Karena terkadang hal yang paling menyakitkan bukan mengetahui bahwa seseorang berbohong.

Tetapi mengetahui bahwa selama kita menganggapnya sebagai orang yang paling dekat, dia ternyata tidak pernah berada di pihak kita.

Itu bisa membuat kita mempertanyakan seluruh hubungan.

Apalagi ketika kita sudah berusaha mempertahankan seseorang yang sebenarnya tidak melakukan hal yang sama untuk kita.

Menurut gue, lagu ini juga menunjukkan bahwa closure tidak selalu datang dari orang yang menyakiti kita.

Kadang kita ingin orang tersebut menjelaskan semuanya.

Kenapa dia berbohong?

Kenapa dia melakukan itu?

Apakah dia pernah benar-benar mencintai kita?

Tetapi tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Dan kalau kita terus menunggu jawaban dari orang tersebut, kita bisa terus terjebak.

Karena itu, keputusan untuk berkata bahwa orang tersebut bukan lagi urusan kita terasa penting.

Bukan karena rasa sakit langsung hilang.

Tetapi karena akhirnya kita memilih untuk tidak membiarkan orang tersebut mengendalikan hidup kita lagi.

Menurut gue, “No Time To Die” pada akhirnya bukan tentang kematian secara harfiah saja.

Ini bisa dibaca sebagai simbol dari keputusan untuk tidak lagi “mati” secara emosional demi hubungan yang sudah selesai.

Tidak ada lagi waktu untuk terus menangisi orang yang sama.

Tidak ada lagi waktu untuk terus menyalahkan diri sendiri.

Tidak ada lagi waktu untuk mengejar seseorang yang sudah menunjukkan bahwa dia tidak berada di pihak kita.

Kadang satu-satunya cara untuk benar-benar menang dari pengkhianatan adalah berhenti memberikan orang tersebut kesempatan untuk menghancurkan kita lagi.


Fakta Lagu yang Relevan

“No Time To Die” merupakan lagu tema utama film James Bond No Time to Die yang dibawakan oleh Billie Eilish.

Lagu ini ditulis oleh Billie Eilish dan FINNEAS, dengan produksi yang melibatkan FINNEAS bersama Hans Zimmer dan tim produksi musik film tersebut.

Lagu ini dirilis pada 2020 dan memiliki karakter yang sangat berbeda dari lagu pop konvensional karena menggunakan atmosfer yang gelap, dramatis, dan sinematik.

Secara tematik, liriknya juga cocok dengan dunia James Bond yang penuh dengan kepercayaan, pengkhianatan, bahaya, dan hubungan yang tidak selalu bisa dipercaya.

Lagu ini kemudian mendapatkan pengakuan besar dan memenangkan Academy Award untuk Best Original Song, menjadikannya salah satu pencapaian penting dalam karier Billie Eilish.


Lirik Lagu

[Verse 1]
 I should have known
Seharusnya Aku tahu
I'd leave alone
Aku akan ditinggalkan
Just goes to show
Itu tampak jelas
That the blood you bleed
Darah kau kucurkan
Is just the
 blood you own
Hanya darah yang Kamu terima
We were
 a pair
Kita adalah pasangan
But I saw you there
Tapi, Aku melihatmu disana
Too
 much to bear
Terlalu banyak yang ditanggung
You were my life, but life is far away from fair
Kamulah hidupku, tapi kehidupan itu jauh dari adil
Was I stupid to love you?
Apakah Aku bodoh mencintaimu ?
Was I reckless to help?
Apa Aku gegabah membantumu ?
Was it obvious to everybody else?
Apa sudah jelas bagi orang lain?

[Chorus]
That I'd fallen for a lie
Bahwa Aku jatuh cinta pada kebohongan
You were never on my side
Kamu tidak pernah ada disisiku
Fool me once, fool me twice
Membodohiku sekali, dua kali
Are you death or paradise?
Apakah kamu mati atau surga
Now you'll never see me cry
Sekarang Kamu tidak akan pernah melihatku menangis
There's just no time to die
Tidak ada waktu untuk mati

[Verse 2]
I let it burn
Aku biarkan itu terbakar
You're no longer my concern
Kamu tak lagi menjadi perhatianku
Faces from my past return
Menghadapi kembali masa laluku
Another lesson yet to learn
Perlajaran lain yang belum dipelajari

[Chorus]
That I'd fallen for a lie
Bahwa Aku jatuh cinta pada kebohongan
You were never on my side
Kamu tidak pernah ada disisiku
Fool me once, fool me twice
Membodohiku sekali, dua kali
Are you death or paradise?
Apakah kamu mati atau surga
Now you'll never see me cry
Sekarang Kamu tidak akan pernah melihatku menangis
There's just no time to die
Tidak ada waktu untuk mati

[Refrain]
No time to die
No, no time to die
Tidak ada waktu untuk mati

[Outro]
Fool me once, fool me twice
Membodohiku sekali, dua kali
Are you death or paradise?
Beraninya Kamu menentang surga
Now you'll never see me cry
Sekarang Kamu tidak akan pernah melihatku menangis
There's just no time to die
Tidak ada waktu untuk mati

Tentang Pensil Karyaku

Pensil Karyaku hadir untuk membahas makna, pesan, dan cerita di balik berbagai lagu yang mungkin sering kita dengarkan, tetapi belum tentu kita pahami lebih dalam.

Lewat setiap tulisan, kita mencoba melihat sebuah lagu bukan hanya dari melodinya, tetapi juga dari cerita, pengalaman, pesan sosial, kehidupan, dan perasaan yang mungkin terkandung di dalamnya.

Karena terkadang, satu lagu bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.


Yuk, Ikut Berdiskusi

Menurut gue, “No Time To Die” punya pertanyaan yang cukup berat:

Kalau seseorang yang paling lo percaya ternyata mengkhianati lo, mana yang lebih sulit—memaafkan orang tersebut atau memaafkan diri sendiri karena pernah mempercayainya?

Menurut lo, apakah seseorang yang sudah pernah berbohong masih layak mendapatkan kesempatan kedua?

Dan satu lagi:

Apakah closure memang harus datang dari orang yang menyakiti kita, atau sebenarnya kita bisa mendapatkan closure dengan memilih pergi tanpa pernah mendapatkan semua jawabannya?

Ceritain pendapat lo di kolom komentar. Bisa jadi pengalaman lo justru memberikan sudut pandang lain tentang arti “No Time To Die.”

 



Tidak ada komentar: