Tentang
Penyanyi
Lauv adalah penyanyi, penulis
lagu, dan produser asal Amerika Serikat yang dikenal lewat musik pop dengan
pendekatan yang sangat personal dan introspektif.
Banyak karya
Lauv membahas hubungan, kesehatan emosional, kesepian, kecemasan, pencarian
identitas, dan berbagai konflik yang sering dialami seseorang dalam kehidupan
modern.
Salah satu
karakter musik Lauv adalah kemampuannya mengemas persoalan yang cukup berat ke
dalam musik pop yang terdengar ringan dan mudah didengarkan.
“Modern
Loneliness”
merupakan salah satu contoh yang kuat. Lagu ini tidak hanya membicarakan rasa
kesepian, tetapi mencoba melihat mengapa seseorang bisa merasa kesepian
meskipun sebenarnya dikelilingi banyak orang.
Tentang
Lagu
“Modern
Loneliness”
membahas bentuk kesepian yang berbeda dari kesepian pada umumnya.
Biasanya,
ketika seseorang mengatakan dirinya kesepian, kita membayangkan seseorang yang
sendirian, tidak punya teman, atau tidak memiliki siapa pun untuk diajak
bicara.
Namun lagu
ini justru menawarkan gambaran yang berbeda:
kita bisa
tidak pernah benar-benar sendirian, tetapi tetap merasa sangat kesepian.
Tokoh dalam
lagu memiliki teman yang sangat dia sayangi. Dia memiliki keluarga, kehidupan
sosial, dan berbagai bentuk hubungan dengan orang lain.
Tetapi ada
jarak emosional yang membuat semua itu tidak otomatis menghilangkan rasa kosong
di dalam dirinya.
Inilah yang
disebut sebagai “modern loneliness.”
Kesepian di
era modern bukan selalu karena tidak ada orang di sekitar kita.
Terkadang
justru karena kita terhubung dengan terlalu banyak orang, tetapi tidak
benar-benar merasa terhubung dengan siapa pun.
Makna /
Interpretasi Lagu
Menurut
interpretasi gue, lagu ini adalah kritik terhadap kehidupan modern yang
terlihat sangat terkoneksi dari luar, tetapi bisa terasa sangat kosong dari
dalam.
Bagian
paling kuat menurut gue adalah gagasan:
“We're
never alone but always depressed.”
Kalimat
tersebut menggambarkan kontradiksi.
Kita bisa
punya banyak teman.
Bisa punya
media sosial.
Bisa selalu
menerima notifikasi.
Bisa melihat
kehidupan orang lain setiap hari.
Tetapi semua
itu belum tentu membuat kita merasa benar-benar dipahami.
Bahkan
terkadang, semakin banyak koneksi yang kita punya, semakin jelas juga rasa
kosong yang kita rasakan.
Lagu ini
kemudian menjadi lebih personal ketika tokohnya membicarakan ayahnya, dirinya
sendiri, dan orang yang akhirnya terbentuk dari perjalanan hidup tersebut.
Ada
pertanyaan tentang bagaimana keluarga dan masa lalu membentuk seseorang.
Kemudian
muncul usaha untuk mengisi kekosongan tersebut.
Namun dia
tetap merasa kosong.
Menurut gue,
ini menunjukkan bahwa kekosongan emosional tidak selalu bisa diselesaikan
hanya dengan menambah aktivitas, teman, hiburan, atau kesenangan.
Karena kalau
sumber masalahnya ada di dalam diri, sebanyak apa pun distraksi dari luar,
perasaan itu bisa tetap kembali.
Tema yang
Dibahas
Kesepian
di Tengah Keramaian
Ini adalah
tema utama lagu.
Seseorang
bisa berada di tengah banyak orang tetapi tetap merasa sendirian.
Menurut gue,
ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar tidak punya teman.
Karena
masalahnya bukan jumlah orang di sekitar kita.
Masalahnya
adalah kedalaman hubungan.
Kita bisa
punya puluhan teman, tetapi tidak punya satu orang pun yang benar-benar kita
hubungi ketika sedang hancur.
Dan lagu ini
menyentuh ironi tersebut.
Dia
mencintai teman-temannya, tetapi bahkan tidak menelepon atau mengirim pesan
kepada mereka.
Hubungan
yang Tidak Benar-Benar Terjaga
Ada bagian
yang sangat relate tentang mencintai teman tetapi tidak pernah menghubungi
mereka.
Menurut gue,
ini menggambarkan kebiasaan kehidupan modern.
Kita sering
berkata:
“Harusnya
kapan-kapan ketemu.”
“Kapan-kapan
ngobrol.”
“Gue kangen
lo.”
Tetapi hari
terus berjalan dan kita tetap tidak menghubungi mereka.
Akhirnya,
hubungan yang sebenarnya berharga perlahan menjadi jauh bukan karena ada
pertengkaran, tetapi karena tidak ada usaha untuk menjaga koneksi.
Ini juga
memperlihatkan bahwa memiliki orang-orang baik dalam hidup belum tentu cukup.
Hubungan
membutuhkan kehadiran.
Kekosongan
yang Tidak Bisa Diisi dari Luar
Tokoh lagu
mencoba mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan di dalam dirinya.
Namun tetap
merasa kosong.
Menurut gue,
ini menunjukkan bahwa tidak semua rasa kosong bisa diselesaikan dengan
mendapatkan lebih banyak hal.
Lebih banyak
teman.
Lebih banyak
uang.
Lebih banyak
hiburan.
Lebih banyak
pencapaian.
Bahkan lebih
banyak perhatian.
Kalau
masalah dasarnya tidak pernah dihadapi, semuanya hanya menjadi pengisi
sementara.
Setelah
distraksi hilang, kekosongan tersebut kembali lagi.
Beban
Masa Lalu
Ada gambaran
tentang “baggage” yang tersimpan di kamar, lemari, dan hati.
Menurut gue,
baggage di sini merupakan metafora untuk beban emosional.
Pengalaman
masa lalu.
Masalah
keluarga.
Kekecewaan.
Penyesalan.
Ketakutan.
Semua hal
tersebut mungkin tidak terlihat oleh orang lain, tetapi tetap kita bawa setiap
hari.
Kamar dan
lemari menjadi seperti tempat penyimpanan simbolis untuk semua hal yang belum
selesai di dalam diri.
Pengaruh
Keluarga terhadap Diri Kita
Lagu dibuka
dengan refleksi tentang ayah dan bagaimana sosok tersebut ikut membentuk
dirinya.
Ini
menunjukkan bahwa identitas seseorang tidak muncul begitu saja.
Ada
keluarga, pengalaman masa kecil, lingkungan, dan berbagai kejadian yang ikut
membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Menurut gue,
bagian ini membuat lagu menjadi lebih dalam karena kesepian yang dibahas bukan
hanya masalah kehidupan sosial.
Ada juga
pertanyaan:
“Kenapa
gue menjadi seperti ini?”
Dan
terkadang jawabannya tidak sederhana.
Melarikan
Diri dari Masalah
Ada bagian
lagu yang menggambarkan kebiasaan mencari sesuatu untuk membuat diri merasa
lebih baik, tetapi kemudian tidak tahu bagaimana kembali ke keadaan normal.
Menurut gue,
ini bisa dibaca lebih luas sebagai metafora tentang pelarian dari masalah.
Kita mencari
sesuatu yang membuat kita tidak perlu merasakan sakit untuk sementara.
Hiburan.
Pesta.
Kesenangan.
Kebiasaan
tertentu.
Apa pun
bentuknya, selama bisa membuat kita berhenti memikirkan masalah.
Namun ketika
efeknya hilang, masalah tersebut masih ada.
Karena kita
tidak benar-benar menyelesaikannya.
Sulit
Meminta Bantuan
Hal yang
menurut gue cukup menyedihkan adalah tokoh lagu sebenarnya memiliki orang-orang
yang dia cintai.
Tetapi dia
tetap tidak menghubungi mereka.
Ini
menunjukkan bahwa kesepian terkadang bukan karena tidak ada orang yang peduli.
Kita sendiri
mungkin terlalu sulit untuk mengatakan:
“Gue lagi
nggak baik-baik saja.”
Ada rasa
malu.
Takut
merepotkan.
Takut
dianggap lemah.
Atau mungkin
kita bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang sedang kita rasakan.
Akhirnya
kita memilih diam.
Dan diam
tersebut membuat kita semakin merasa sendirian.
Pendapat
/ Analisis
Menurut gue,
“Modern Loneliness” adalah lagu yang semakin relate justru karena
kehidupan sekarang semakin terkoneksi.
Kita bisa
mengetahui seseorang sedang makan apa.
Sedang pergi
ke mana.
Sedang
bersama siapa.
Bahkan bisa
melihat aktivitas mereka hampir setiap hari.
Tapi
mengetahui kehidupan seseorang dari layar tidak sama dengan benar-benar
hadir dalam kehidupan mereka.
Dan menurut
gue, itu salah satu bentuk kesepian modern yang paling aneh.
Kita punya
akses kepada banyak orang, tetapi belum tentu punya hubungan yang dalam dengan
mereka.
Gue juga
suka kontradiksi ketika dia mengatakan bahwa dia sangat mencintai
teman-temannya tetapi tidak pernah menelepon atau mengirim pesan.
Karena
jujur, ini bisa terjadi kepada siapa saja.
Bukan karena
kita tidak peduli.
Kadang kita
hanya terlalu sibuk.
Terlalu
capek.
Terlalu
tenggelam dalam masalah sendiri.
Sampai
akhirnya kita baru sadar bahwa sudah berbulan-bulan tidak benar-benar ngobrol
dengan orang yang sebenarnya penting bagi kita.
Menurut gue,
lagu ini juga mengingatkan bahwa kesepian tidak selalu membutuhkan orang
baru.
Kadang yang
kita butuhkan justru kembali terhubung dengan orang-orang yang sudah ada.
Tanya kabar.
Ngobrol
tanpa tujuan.
Ketemu.
Atau sekadar
mengatakan:
“Gue lagi
nggak baik-baik aja.”
Karena
mungkin selama ini kita bukan kekurangan manusia di sekitar kita.
Kita hanya
kekurangan hubungan yang benar-benar terasa nyata.
Dan bagian
tentang ingin “membersihkan” diri dari semua hal buruk juga menurut gue
menarik.
Kita sering
berharap bisa menghapus masa lalu seperti menghapus file.
Menghilangkan
trauma.
Menghapus
kesalahan.
Membuang
semua hal yang membuat kita tidak nyaman dengan diri sendiri.
Tapi manusia
tidak bekerja seperti itu.
Kita tidak
bisa memotong bagian-bagian buruk dari diri kita lalu berharap semuanya
langsung baik.
Kadang kita
justru harus memahami bagian tersebut.
Menerima
bahwa itu pernah terjadi.
Kemudian
perlahan belajar hidup tanpa terus dikuasai olehnya.
Buat gue, “Modern
Loneliness” bukan cuma lagu tentang kesepian.
Ini lagu
tentang paradoks kehidupan modern:
kita bisa
selalu online tetapi tetap merasa tidak punya tempat untuk pulang secara
emosional.
Dan mungkin
pertanyaan terbesarnya bukan:
“Kenapa
gue sendirian?”
Tetapi:
“Kenapa
ketika ada begitu banyak orang di sekitar gue, gue masih merasa tidak
benar-benar bersama siapa pun?”
Fakta
Lagu yang Relevan
“Modern
Loneliness”
merupakan lagu Lauv yang dirilis pada 2020 dan menjadi bagian dari album
debutnya, ~how i'm feeling~.
Lagu ini
dikenal karena mengangkat isu yang sangat dekat dengan kehidupan modern:
kesepian, hubungan sosial, kesehatan emosional, dan kesulitan membangun koneksi
yang benar-benar mendalam.
Judul “Modern
Loneliness” sendiri menjadi konsep utama lagu karena kesepian yang
dibicarakan bukan sekadar kondisi fisik sendirian, melainkan keadaan ketika
seseorang memiliki koneksi sosial tetapi tetap merasa kosong secara emosional.
Lirik Lagu
The person that he made me
The person I've become
And I've been tryna fill all of this empty
But, fuck, I'm still so empty
And I could use some love
[Pre-Chorus]
And I've been trying to find a reason to get up
Been trying to find a reason for this stuff
In my bedroom and my closet
The baggage in my heart is still so dark
Modern loneliness, we're never alone
But always depressed, yeah
Love my friends to death
But I never call and I never text, yeah
La-di-da-di-da
You get what you give and give what you get, so
Modern loneliness, we love to get high
But we don't know how to come down
[Verse 2]
If I could break my DNA to pieces
Get rid of all my demons
If I could cleanse my soul
But, shit, that wouldn't solve them
So, I'm here left alone
[Pre-Chorus]
And I've been trying to find a reason to get up
In my bedroom and my closet
The baggage in my heart is still so dark
[Chorus]
Modern loneliness, we're never alone
But always depressed, yeah
Love my friends to death
But I never call and I never text, yeah
La-di-da-di-da
You get what you give and give what you get, so
Modern loneliness, we love to get high
But we de don't know how to come down
Down, down, down, down, down
We don't know how to come down
Down, down, down, down, down
We don't know how to come down
Down, down, down, down, down
We don't know how to come down
Down, down, down, down, down
[Chorus]
Modern loneliness, we're never alone
But always depressed, yeah
Love my friends to death
But I never call and I never text, yeah
La-di-da-di-da
You get what you give and give what you get, so
Modern loneliness, we love to get high
But we de don't know how to come down
[Bridge]
Down, down, down, down, down
Down, down, down, down, down
We don't know how to come down
Down, down, down, down, down
We don't know how to come down
Down, down, down, down, down
We don't know how to come down
[Outro]
Modern loneliness, we're never alone
But always depressed, yeah
Tentang
Pensil Karyaku
Pensil
Karyaku
hadir untuk membahas makna, pesan, dan cerita di balik berbagai lagu yang
mungkin sering kita dengarkan, tetapi belum tentu kita pahami lebih dalam.
Lewat setiap
tulisan, kita mencoba melihat sebuah lagu bukan hanya dari melodinya, tetapi
juga dari cerita, pengalaman, pesan sosial, kehidupan, dan perasaan yang
mungkin terkandung di dalamnya.
Karena
terkadang, satu lagu bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.
Yuk, Ikut
Berdiskusi
Menurut gue,
“Modern Loneliness” punya satu pertanyaan yang cukup dekat dengan
kehidupan sekarang:
Pernah
nggak lo merasa kesepian padahal sebenarnya punya teman, keluarga, atau banyak
orang yang bisa diajak ngobrol?
Menurut lo,
apakah media sosial dan teknologi benar-benar membuat kita semakin dekat dengan
orang lain, atau justru membuat hubungan terasa semakin dangkal?
Dan satu
pertanyaan terakhir:
Kalau lo
sedang merasa benar-benar nggak baik-baik saja, apakah lo tipe orang yang
langsung menghubungi seseorang, atau justru memilih diam dan menghadapi
semuanya sendirian?
Ceritain pendapat lo di kolom komentar. Karena mungkin, tanpa kita sadari, banyak orang sedang mengalami “modern loneliness” yang sama.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar